Sultan Bima XIII Gagal Lagi Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional

Sirajuddin (Suara NTB/uki)

Bima (Suara NTB) – Langkah dan upaya Pemerintah Kabupaten Bima melalui Dinas Sosial (Dinsos) yang mengusulkan kembali Sultan Bima, Muhammad Salahuddin sebagai pahlawan Nasional belum membuahkan hasil.

Pasalnya Sultan Bima ke XIII yang diabadikan menjadi nama Bandara di Bima ini gagal lagi ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI, Jokowi Widodo pada Tahun 2020 ini.

Kepala Dinsos Kabupaten Bima, Drs. Sirajuddin MM, mengaku tahun 2020, Sultan Bima gagal ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Meski begitu, namanya masuk dalam daftar antrian untuk ditetapkan sebagai pahlawan.

“Sudah dua kali gagal ditetapkan, tahun 2019 dan 2020 ini. Tapi masuk dalam daftar antrian,” ujarnya kepada Suara NTB, Kamis, 19 November 2020.

Menurutnya pada Tahun 2019 lalu ada sebanyak 24 nama sebagai Calon Pahlawan Nasional (CPN) termasuk diantaranya Sultan Bima. Namun tahun 2020 ini sudah ditetapkan enam nama.

“Tinggal sekarang ada 18 nama. Satu atau dua tahun kedepan Insya Allah Sultan Bima ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Tinggal menunggu waktu saja,” ujarnya.

Sirajuddin mengaku pahlawan nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) dengan indikator penilaian dan evaluasi oleh Tim tujuh yang dibentuk oleh Presiden. Kata dia, Tim tujuh itu beranggotakan sejarahwan, peneliti, dan akademisi.

“Nama atau orang yang tergabung dalam tim tujuh ini berbeda-beda setiap tahun,” ujarnya.

Terlepas dari itu, Ia mengaku alasan pihaknya bertedad menginginkan Sultan Bima sebagai pahlawan nasional karena menyelamatkan para perempuan Bima yang akan dinikahi paksa oleh penjajah jepang saat itu.

Tidak hanya itu tambah dia, Sultan Bima juga berjuang bersama warga Bima berperang melawan penjajah. Hingga Indonesia merdeka, Sultan Bima dihadapan Soekarno menyatakan bergabung dan menjadi bagian dari NKRI.

“Beliau juga berjuang mendidirikan sekolah-sekolah islam di Bima yang saat ini masih aktif dan mengirim warga Bima untuk sekolah keluar negeri seperti ke Mesir dan Arab Saudi,” katanya.

Dalam cataran Suara NTB, Pemerintah Kabupaten Bima mengusulkan Muhammad Salahuddin menjadi pahlawan nasional sejak tahun 2008 silam. Namun baru tahun 2016 diproses.

Pengusulan itu tidak terlepas dari jasa-jasanya memerdekan Repulik Indonesia. Semasa hidupnya Ia memimpin dan berjuang menggerakkan rakyat untuk merebut kekuasaan dari Pemerintah Hindia Belanda. Serta menyatakan diri bergabung dengan NKRI yang saat itu Indoenesia dipimpin Presiden Soekarno.

Selain memperjuangkan dan menyatakan setia kepada NKRI, Muhammad Salahuddin juga telah berjasa memajukan rakyatnya dengan mendukung organisasi-organisasi pergerakan.

Mendirikan sekolah umum dan agama sehingga Ia diberi gelar Ma Kakidi Agama  (yang mendirikan agama) serta memberikan beasiswa kepada masyarakat Bima dengan menggunakan uang pribadinya. (uki)