Sultan Bima ke-XIII Kembali Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Sirajuddin (Suara NTB/Dok)

Bima (Suara NTB) – Sultan Bima ke-XIII yang bernama Muhammad Salahuddin kembali diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Pada tahun 2019 lalu, Sultan yang diabadikan menjadi nama Bandara di Bima ini gagal dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bima, Drs. Sirajuddin MM mengatakan tahun 2020 Kementerian Sosial (Kemensos) kembali mengusulkan sejumlah tokoh di seluruh Indonesia kepada Presiden RI sebagai Calon Pahlawan Nasional (CPN).

Iklan

“Salah seorang nama yang diusulkan adalah Sultan Bima, Muhammad Salahudin,” katanya, Jumat, 16 Oktober 2020.

Lebih lanjut dikatakannya pada tahun 2019 lalu, Tim Kepahlawanan, Keperintisan Kesetiawakawan dan Restorasi Sosial Kemensos melakukan pengujian dan pengecekan lapangan terhadap CPN Sultan Bima Muhammad Salahuddin.

“Sudah sempat dicek dan diuji oleh Pihak Kemensos, namun sampai pengumuman namanya tidak keluar. Dan semoga tahun 2020 ini anugerah pahlawan nasional bisa diperoleh,” ujarnya

Untuk itu, Sirajuddin berharap dukungan dan do’a dari masyarakat Bima agar Sultan bima yang ke XIII itu dapat dianugerahi gelar Pahlawan Nasional yang akan diumumkan pada tanggal 10 November 2020 mendatang melalui Keputusan Presiden (Kepres).

“Akan diumumkan bertepatan hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November 2020,” katanya.

Dalam cataran Suara NTB, Pemerintah Kabupaten Bima mengusulkan Muhammad Salahuddin menjadi pahlawan nasional sejak tahun 2008 silam. Namun baru tahun 2016 hingga sekarang baru diproses.

Pengusulan itu tidak terlepas dari jasa-jasanya memerdekan Repulik Indonesia. Semasa hidupnya Ia memimpin dan berjuang menggerakkan rakyat untuk merebut kekuasaan dari Pemerintah Hindia Belanda. Serta menyatakan diri bergabung dengan NKRI yang saat itu Indoenesia dipimpin Presiden Soekarno.

Selain memperjuangkan dan menyatakan setia kepada NKRI, Muhammad Salahuddin juga telah berjasa memajukan rakyatnya dengan mendukung organisasi-organisasi pergerakan.

Mendirikan sekolah umum dan agama sehingga Ia diberi gelar Ma Kakidi Agama  (yang mendirikan agama) serta memberikan beasiswa kepada masyarakat Bima dengan menggunakan uang pribadinya. (uki)