Sulitnya Menangkar Penyu, Dari Konsumsi dan Pakan hanya 40 Persen yang Terpenuhi

Anggota DPR RI, Helmy Faishal Zaini berkesempatan melepas tukik ke alam liar di sela-sela kunjungannya ke Nipah belum lama ini. (Suara NTB/ist)

Sebagai mamalia laut, penyu memiliki peranan dalam menjaga ekosistem alam kawasan perairan. Tapi, tahukah kita? Untuk menjaga keberlangsungan hidup penyu, dari bertelur, menetas menjadi tukik hingga dewasa dihadapkan dengan tantangan dan kendala di lapangan.

Tantangan utamanya adalah, masih adanya konsumsi telur penyu di kalangan manusia. Sedangkan pada proses pemeliharaan, kerap kali sarana dan prasarana tidak mendukung, serta ketersediaan pakan yang tidak cukup.

Iklan

Salah satu Pokmas Penangkar Penyu di Lombok Utara adalah Turtle Conservation Community (TCC). Sejak berdiri beberapa tahun lalu, TCC yang berlokasi di Dusun Nipah, Desa Malaka, tergolong berhasil melestarikan penyu. Dari indukan yang dikelola, rata-rata telur yang dihasilkan 600 butir. Dari jumlah itu, 450 butir (75 persen) berhasil ditetaskan menjadi tukik.

Namun selama proses pemeliharaan hingga tukik bisa dilepas ke alam bebas, membutuhkan keuletan anggota Pokmas TCC. Sebab kendala yang dihadapi cukup banyak. Selain sarpras, juga biaya pakan. Selama ini, Pokmas TCC hanya bergantung dari iuran anggota dan donasi parsial sejumlah kalangan.

“Kami sangat berterima kasih atas kunjungan Bapak Helmy, sebab dengan kedatangan beliau kami merasa terbantu dengan support yang diberikan ke kelompok guna menunjang fasilitas yang kami miliki untuk pengembangan pelestarian penyu,” ucap Ketua TCC Nipah, Iwan Suyadi, Kamis, 7 Oktober 2021.

Anggota Komisi I DPR RI, Helmy Faishal Zaini, diakui Iwan, prihatin dengan perjuangan Pokmas TCC. Seketika itu juga, Sekjen PB NU ini meminta dirinya dimasukkan dalam Struktur Pengurus TCC pada kapasitas sebagai Pembina TCC.

“Beliau bersedia menjadi bagian dari Pengurus TCC sebagai penasihat sekaligus Pembina Kelompok Pelestari Penyu TCC Nipah. Semoga masuknya beliau dalam struktur TCC, menjadi magnet bagi kami agar tetap solid, dan mudah memperoleh sumber daya dukungan untuk jangka panjang,” ucapnya.

Dijelaskan Iwan, kendala penangkaran yang dihadapi sebagian besar pada sarpras yang belum mendukung. Sementara, tantangannya terletak pada kebiasaan sebagian kecil oknum masyarakat yang suka mengkonsumsi telur penyu.

“Ini tantangan yang paling berat kami rasakan. Syukurnya, sejak 3 tahun terakhir, kami dari kelompok bisa menekan angka para oknum yang memburu telur penyu. Sebelumnya dari 100 persen yang mengkonsumsi, tersisa sekitar 15 persen oknum,” sebutnya.

Sementara, pada operasional bulanan, pengurus TCC cukup kerepotan, karena struktur finansial yang belum kuat. Sumber dana untuk pakan harian saja, masih bergantung pada iuran sukarela anggota.

“Dengan dana seadanya semuanya bisa makan, tetapi tidak cukup untuk takaran pakan dengan jumlah 250 ekor induk penyu yang ada di kolam.  Mereka harus diberi makan setiap hari. Kalau dihitung takarannya, kami harus sediakan minimal 10 ekor tongkol. Dengan dana seadanya, kami hanya mampu memberikan pakan 4 ekor tongkol saja,” pungkas Iwan.

Terpisah, Helmy Faisal Zaini, dalam kunjungan ke KLU belum lama ini, mengunjungi sejumlah tempat. Di lokasi penangkaran penyu, anggota Fraksi PKB DPR RI itu memberikan bantuan modal untuk pembelian mesin pompa air untuk keperluan kolam penangkaran.

“Kita juga akan memberikan pembinaan terhadap kelompok pemerhati penyu TCC di kawasan Pantai Nipah. Saya minta, nama saya dimasukkan sebagai pembina,” ujar Helmy.

Ia akan berpartisipasi langsung dengan pengurus TCC pada program pelestarian penyu oleh kelompok. Sebab ia memandang, penyu merupakan mamalia langka dan harus dijaga kelestariannya dalam jangka panjang. Pemerintah Indonesia juga memberi penekanan untuk tidak memperjualbelikan atau mengkonsumsi mamalia tersebut. (ari)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional