Sulit, Bangun Kesadaran Masyarakat Soal Kebersihan Lingkungan

Mataram (suarantb.com) – Membangun kesadaran masyarakat soal kebersihan lingkungan masih sulit. Hal inilah yang menjadi salah satu kendala seorang pegiat lingkungan asal Mataram, Aisyah Odist. Mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan menurut penggagas Bank Sampah NTB Mandiri (BSNM) ini tak cukup hanya dengan kampanye dan memberikan pelatihan.

“Orang desa misalnya, mereka lebih berorientasi pada hasil. Jadi, selain mengajarkan cara membuat kerajinan dari sampah ini, kami juga harus mencari cara untuk menyalurkan hasil kreativitas mereka,” jelasnya kepada suarantb.com, Kamis, 14 Juli 2016.

Iklan

Selain rutin melakukan pelatihan dan kampanye ke berbagai daerah di NTB, BSNM  juga berperan sebagai penyalur barang kerajinan daur ulang sampah. Hingga saat ini produk kerajinan sampah dari warga binaan Aisyah telah merambah pasar Australia, Jepang dan Jerman.

Saat suarantb.com bertandang ke markas BSNM, tak terlihat kesan kotor dan kumuh. Tak ada tumpukan sampah selayaknya tempat  pengelolaan sampah daur ulang. Bank sampah ini bertempat di sebuah rumah yang bersih dan terawat.

BSNM mulai beroperasi sejak 2011 lalu. Odist yang gemar bersepeda kerap melihat tumpukan sampah di jalur sepeda yang dilaluinya. Ia pun merasa tergerak melakukan sesuatu untuk lingkungan. Salah satunya bagaimana mengurangi tumpukan sampah.

“Kami sebenarnya ingin mengajak masyarakat untuk peduli pada lingkungan. Kami ingin masyarakat belajar untuk memilah sampahnya sendiri. Karena sampah yang dihasilkan oleh satu individu dalam sehari itu banyak. Tidak perlu jauh-jauh membersihkan sampah di tempat lain,  mari kita mulai dari rumah sendiri,” jelasnya.

Sejak lima tahun beroperasi, BSNM telah memiliki 120 nasabah yang berasal dari warga sekitar. Bagi warga yang ingin menabung, mereka hanya perlu menyetor sampah. “Kami tidak menerima semua jenis sampah, hanya sampah plastik lunak yang diterima. Plastik lunak itu seperti bungkus makanan ringan, mie instan, sabun cuci, shampoo, dan sebagainya. Jumlah tabungan yang diperoleh tergantung dari sampah yang ditabung,” terangnya. Nasabah yang telah memiliki jumlah tabungan cukup banyak bisa mengambilnya dalam bentuk uang.

Sampah plastik yang ditabung warga ini kemudian diolah menjadi berbagai barang kerajinan diantaranya tas dan dompet. Selama lima tahun, BSNM berhasil menginspirasi terbentuknya 35 mitra binaan di seluruh NTB.

Keberhasilan ini juga membuat Odist banyak diundang menjadi pembicara dalam acara-acara bertemakan lingkungan. Ia juga kerap diundang untuk memberikan pelatihan pembuatan kerajinan dari sampah plastik.

Bagi yang tertarik belajar mengolah sampah plastik menjadi kerajinan yang cantik dan berdaya guna, silahkan datang ke markas BSNM di Jalan Leo Nomor 24, Kelurahan Banjar, Ampenan. Mari bergerak menyelamatkan lingkungan demi bumi tercinta. (ros)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here