Sudenom Divonis Dua Tahun Delapan Bulan

Mantan Kadisdik Kota Mataram H. Sudenom mendengarkan vonis hakim dalam persidangan Selasa, 5 Maret 2019. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Mantan Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, H. Sudenom dihukum bersalah. Terdakwa korupsi pungutan Kepala SD dan SMP di Kota Mataram ini divonis penjara selama dua tahun dan delapan bulan serta denda Rp50 juta.

Sudenom terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan sesuai dakwaan pasal 11 UU RI No 20/2001 tentang perubahan atas UU RI No 31/1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi juncto pasal 64 ayat 1 KUHP.

Ketua majelis hakim Suradi membacakan amar putusannya dalam sidang di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram didampingi hakim anggota Ferdinand M Leander dan Abadi.

“Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa H. Sudenom selama dua tahun,” ucap Suradi, Selasa, 5 Maret 2019. Sudenom juga dijatuhi pidana denda sebesar Rp50 juta subsidair dua bulan kurungan.

“Memerintahkan kepada terdakwa untuk tetap berada dalam tahanan kota,” imbuh hakim.

Jaksa penuntut umum sebelumnya menuntut hakim agar menjatuhkan pidana penjara terhadap Sudenom selama empat tahun dan denda Rp200 juta subsidair dua bulan kurungan.

Dalam tuntutannya jaksa menilai Sudenom melanggar pasal 12 huruf e UU RI No 20/2001 tentang perubahan atas UU RI No 31/1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi juncto pasal 64 ayat 1 KUHP.

Menanggapi vonis tersebut, baik penasihat hukum terdakwa, Hijrat Prayitno maupun jaksa penuntut umum Iman Firmansyah menanggapi dengan pikir-pikir.

Sudenom terbukti memungut uang dari 37 kepala SD dan 21 kepala SMP di Kota Mataram sejak Juli sampai September 2017 dengan total hasil pungutan Rp117,2 juta. Caranya dengan mengumpulkan uang memanfaatkan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). Kemudian, Ketua dan Wakil Ketua MKKS, Kepala SMPN 2 Mataram, Lalu Suwarno dan Kepala SMPN 10 Mataram, H. Tahir untuk menggelar rapat pada Juli 2017.

Dua saksi tersebut menyampaikan adanya permintaan dana dari terdakwa kepada para kepala SMP dengan alasan membantu biaya pengobatan. Disampaikan urunan masing-masing sebesar Rp2 juta. Namun para kepala SMP juga ada yang menyetor kurang dari yang dipatok.

Hasilnya uang terkumpul Rp25 juta lewat Tahir. Urunan tersebut belum cukup. Tahir dan Suwarno kembali menghimpun dana dari rekan-rekannya sesama kepala sekolah. Urunan kedua terkumpul Rp19,78 juta. Uang berobat masih juga kurang. Terdakwa lalu meminta Kabid Ketenagaan Disdik Kota Mataram, Hj. Sri Winarni untuk memungut uang dengan alasan yang sama kepada para kepala SD.

Sri tidak sanggup sehingga tugas dialihkan ke Kabid Dikdas, H. L. M. Sidik. Patokan pungutan Rp2 juta. Urunan juga dikoordinir saksi Kepala SDN 41 Mataram Maraeni. Uang urunan pengobatan Sudenom yang terkumpul dari para kepala SD mencapai Rp72,5 juta. (why)