Stunting di Wilayah Pesisir Lotim Akibat Nelayan Kurang Konsumsi Ikan

Nelayan memperlihatkan hasil tangkapan di Desa Batu Nampar Selatan.  Sebagian besar ikan hasil tangkapan ini dijual dan jarang dikonsumsi oleh nelayan dan keluarganya. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Hasil tangkapan ikan para nelayan diduga banyak tidak dikonsumsi langsung oleh para nelayan dan keluarganya. Kenyataan inilah yang diduga menjadi salah satu pemicu munculnya stunting di wilayah-wilayah pesisir. Seperti Desa Batu Nampar dan Desa Batu Nampar Selatan Kecamatan Jerowaru yang banyak muncul kasus stunting.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Timur (Lotim) Muhammad Tasywiruddin, menjelaskan, ikan adalah salah satu sumber protein yang sangat tinggi. Mengkonsumsi ikan bisa mencegah terjadinya stunting, khususnya bagi ibu-ibu hamil saat usia kehidupan 1.000 hari. “Kita dalam setiap kegiatan itu mengencarkan sosialisasi gemar makan ikan,” terangnya pada Suara NTB, Jumat. 1 Januari 2019.

Iklan

Lomba-lomba memasak serba ikan, tambahnya, juga ditekankan untuk memerangi stunting. Menurutnya, konsumsi ikan tidak harus yang besar, termasuk yang kecil-kecil juga mengandung protein tinggi. Namun, banyak nelayan memilih untuk menjual ikan hasil tangkapannya untuk kebutuhan ekonomi.

Diakuinya, pada musim ikan sedang paceklik, harga ikan cukup mahal. Pada kondisi ini, banyak nelayan memilih menjual ikan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Dijelaskan, banyaknya kasus gizi buruk dan stunting di selatan tidak meski karena tidak mengkonsumsi ikan. Apalagi, banyak bantuan yang sudah diberikan pada nelayan.

Penanganan stunting sambungnya tidak bisa dilakukan sendiri. Tidak cukup dengan konsumsi ikan. “Memang ini masalah lintas sektor,” ungkapnya.

Sebelumnya pengakuan nelayan Batu Nampar Selatan, Saidah mengaku lebih memilih menjual ikan untuk memenuhi keperluan lain. Nelayan juga sudah banyak konsumsi ikan dan lebih baik jual ketika ada hasil tangkapan.

Sementara itu menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Lotim, jumlah stunting di Batu Nampar 169 yang dideteksi, ditemukan 69 anak terkena stunting. Desa Batu Nampar Selatan ditemukan 38,40 persen anak stunting, yakni 48 anak dari 125 anak yang diukur. (rus)