Strategi Belajar Berubah, Guru dan Dosen Harus Perbanyak Kunjungan Rumah

Tampak salah satu guru SMK di Lobar melakukan home visit ke  orang tua peserta siswa di Madak Dusun Empol Desa Cendi Manik Sekotong Tengah. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Pola belajar kini berubah. Pandemi Covid-19 merubah tatanan belajar di semua lembaga pendidikan baik dasar, menengah dan tinggi. Perubahan itu turut memaksa guru dan dosen harus mengubah cara mereka mengajar.

Mantan Rektor IAIN (Universitas Islam Negeri) Mataram Prof. Dr. H. Nashuddin, menyarankan agar guru dan dosen memperbanyak lakukan home visit atau kunjungan rumah siswa dan mahasiswa di masa sekarang ini. Belajar jarak jauh berbulan-bulan memungkinkan hubungan personal siswa dan guru, mahasiswa dan dosen ikut berubah.

Iklan

Menurutnya, ada banyak keunggulan yang bisa diperoleh jika home visit dijadikan sebagai salah satu strategi pembelajaran. Di antaranya ialah memperkuat hubungan emosional guru dan murid. Home visit juga dapat menumbuhkan sikap empati.

“Kita harus lakukan home visit. Jadi tahu bagaimana keadaan orang tuanya, rumahnya, kondisi ekonomi, karena kita melihat langsung. Dengan demikian kompetensi sosial kita aktualisasikan,” ujarnya, Selasa, 30 Juni 2020.

Selain itu dengan home visit akan timbul rasa empati, memiliki hubungan baik dengan siswa, memperhatikan siswa secara tulus, menumbuhkan antusiasme yang tinggi dalam mengajar, mau mendengarkan dan menghargai hak siswa dalam berbicara.

Terlebih salah satu kompetensi yang wajib dimiliki guru ialah kompetensi sosial, yang bisa memunculkan sikap adaptif dengan lingkungan sosial dan budaya setempat, memunculkan sikap komunikatif dengan komunitas guru, warga sekolah dan warga masyarakat.

Memiliki kompetensi sosial wajib bagi seorang guru dan dosen. Bahkan hasil pembelajaran bisa jadi kurang baik tanpa kompetensi tersebut. Kondisi itu pula yang membuat pemerintah memperketat persyaratan menjadi guru yaitu persyaratan tentang kualifikasi akademik dan kompetensi dan sertifikat pendidik.

Hal demikian sebagaimana diatur dalam UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Permendiknas nomor 16 tahun 2007, PP nomor 74 tahun 2008, dan Permenag nomor 26 tahun 2010 menyatakan bahwa semua guru di Indonesia minimal berkualifikasi akademik D-IV atau S1 program studi yang sesuai dengan bidang atau jenis mata pelajaran yang dibinanya. Itu berarti bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik kompetensi sertifikasi pendidik, serta memiliki semua kompetensi wajib bagi guru. (dys)

  STP Mataram Gelar Seminar Nasional Pariwisata Berkelanjutan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here