STP Tawarkan Metode Tes Massal Covid-19

Arief Budi Witarto (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Persiapan menuju kenormalan baru perlu melewati beberapa skenario, khususnya pemetaan populasi yang mungkin menjadi lokasi penularan virus Corona (Covid-19). Namun minimnya jumlah spesimen yang dapat diperiksa diakui menjadi kendala utama.

Direktur Sumbawa Technopark (STP), Dr. Arief Budi Witarto, M.Eng menerangkan ada satu metode pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menghemat sumber daya namun dengan hasil yang tetap akurat. “Tekniknya disebut Pool Test. Saya sudah juga coba di Sumbawa, secara teknis kita bisa lakukan,’’ ujarnya, Rabu, 10 Juni 2020.

Iklan

Diterangkan, metode Pool Test sebelumnya digunakan di Wuhan, China, yang menjadi lokasi pertama penularan Covid-19 untuk memeriksa spesimen 9,9 juta penduduk. Dengan motode tesebut pemeriksaan hanya membutuhkan waktu 14 hari dengan biaya terjangkau dan hasil yang tetap akurat.

Menurut Arief, pihaknya telah melayangkan surat pada Dinas Kesehatan (Dikes) NTB dan Dikes Sumbawa untuk melakukan metode tersebut. Khususnya bagi daerah-daerah yang dianggap berpotensi menjadi lokasi transmisi lokal.

‘’Untuk daerah yang terisolasi itu bisa dilakukan,’’ jelasnya. Dengan banyaknya metoda pemeriksaan yang dapat diterapkan di NTB, pihaknya berharap masyarakat dapat lebih terbantu sekaligus pemerintah dapat menghemat biaya yang dikeluarkan untuk penanganan Covid-19. ‘’Jadi masyarakat tetap terlindungi dengan hasil yang baik,’’ sambungnya.

Metode Pool Test menurut Arief, dilakukan dengan mengumpulkan seluruh sampel dari populasi di satu wilayah. Seluruh sampel tersebut kemudian disatukan untuk diperiksa sehingga menghemat proses pengujian.

“Kalau dari sempel itu ketemu ada virusnya, baru kita periksa satu-satu,’’ ujarnya. Dengan demikian, pemerintah dapat memetakan dengan lebih cepat daerah mana yang terbebas dari Covid-19 dan daerah mana yang membutuhkan penangangan.

Untuk penanganan di rumah sakit disebutnya memang memerlukan metode diagnosis dengan menguji satu per satu specimen pasien. Namun untuk melihat populasi yang lebih luas, metode tersebut dinilai akan menghabiskan banyak biaya, waktu, serta menguras tenaga.

Metode tersebut juga telah diterapkan pihaknya untuk memeriksa 150 spesimen pasien di Kecamatan Sumbawa. ‘’Hasilnya negatif. Tapi yang lebih penting adalah kita punya gambaran bagaimana daerah itu populasi orangnya,’’ ujar Arief.

Mengingat pengujian di Sumbawa dilakukan dalam rangka penelitian, pemetaan dengan distribusi yang lebih merata diharapkan dapat terwujud melalui peraturan resmi pemerintah. Terutama untuk dilakukan di daerah-daerah yang membutuhkan pengujian secara menyeluruh.

Dicontohkan metode tersebut dapat diterapkan untuk mempersiapkan kenormalan baru di kawasan Tiga Gili (Trawangan, Air, Meno). Di mana seluruh penduduk di Tiga Gili dapat diperiksa secara bersamaan untuk melihat ada atau tidaknya populasi positif Covid-19.

‘’Tiga Gili terutama kita (perlu) pastikan penduduk yang tinggal di sana semuanya negatif dengan metode Pool Test. Pariwisata banyak pekerja yang dari luar pulau, ini juga akan kita tes. Kemudian kita bisa kejar Gili itu bisa (dibuka) untuk pariwisata,’’ ujar Arief.

Metode tersebut juga dapat diterapkan untuk memeriksa kelompok wisatawan yang akan masuk ke Tiga Gili. Di mana dengan Pool Test biaya yang dikeluarkan untuk bisa ditekan hingga menyamai biaya rapid test sebesar Rp200-300 ribu.

“Itu kualitasnya sudah sama (dengan swab) Pool Test itu. Saya yakin itu bisa dilakukan,’’ katanya. Menurut Arief, hal tersebut sesuai dengan pemeriksaan yang dilakukan selama ini yang mengedepankan aspek kualitatif, yaitu untuk mengetahui apakah pasien positif atau negatif dari Covid-19. (bay)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional