STP Mataram Gelar Pengabdian Melalui Pendampingan Pengembangan Ekowisata Bambu di Sembalun

0
Kegiatan pengabdian masyarakat oleh STP Mataram melalui pendampingan pengembangan ekowisata bambu berbasis masyarakat di Sembalun.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Mataram menggagas kegiatan pengabdian masyarakat untuk pendampingan pengembangan ekowisata bambu berbasis masyarakat di Sembalun bersama mitra lokal Sembalun Community Development Center (SCDC) dan mitra luar negeri CERES Global, Australia.

Sebagai lead institution melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), STP Mataram membentuk sebuat tim pengabdian dengan Lia Rosida, S.Pd., M.Dev.St., sebagai Project Leader, dan beranggotakan dosen sebagai tim ahli dan mahasiswa untuk mensukseskan kegiatan ini. Kegiatan ini didanai  Pemerintah Australia melalui hibah kompetitif Skema Hibah Alumni atau AGS (Alumni Grant Scheme) yang diadministrasikan oleh Australia Awards di Indonesia.

IKLAN

Kegiatan ini secara umum dilakukan melalui tahapan pelatihan dan workshop ekowisata bambu, praktik penataan kebun bambu sebagai ecotourism-site serta pelatihan pembibitan dan konservasi bambu yang dilakukan pada 19-26 Oktober 2020. Kegiatan mentoring secara online juga akan dilakukan sepanjang bulan November dan Desember dan diharapkan pada Januari 2021 dapat dilakukan peresmian (launching) percontohan ekowisata bambu yang akan mengundang seluruh pihak terkait.

Dalam kegiatan ini STP Mataram akan memberikan pendampingan pengelolaan ekowisata bambu dengan konsep ekowisata berbasis masyarakat sebagai solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dan bermanfaat untuk masyarakat setempat baik secara sosial-budaya, ekonomi, dan lingkungan.

Lia Rosida menjelaskan, konsep ini dinilai sangat tepat untuk diterapkan di Sembalun dengan sumber daya alam kebun bambu yang luas, memiliki nilai historis, serta kearifan lokal yang sangat erat kaitannya dengan nilai sosial dan budaya masyarakat setempat. “Sehingga, secara ekonomi, sosial budaya dan lingkungan, ekowisata bambu berbasis masyarakat dapat menjadi alternatif bentuk pembangunan wisata di Sembalun yang berada di wilayah Rinjani Lombok UNESCO Global Geopark,” ujarnya.

Maka dari itu, konsep ini digagas dengan melibatkan banyak pihak dari akademisi, pemerintah, dan tentunya masyarakat setempat. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan partisipatif untuk memaksimalkan sumber daya manusia daerah setempat dalam menghasilkan potensi ekowisata bambu yang berkembang dengan didukung oleh masyarakat secara penuh melalui pelibatan masyarakat baik dari segi perencanaan, pelaksanaan kegiatan, pengelolaan ekowisata sampai tahap evaluasi. (ron/*)