STIP NTB akan Inkubasi 50 Calon Pengusaha

Muh. Ikhwan (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB)Science Technology Industrial Park (STIP) Provinsi NTB di Banyumulek, Lombok Barat, akan menginkubasi (membina) 50 orang menjadi calon pengusaha di bidang industri. Pemerintah daerah menanggung penuh pembiayaannya.

‘’Tahun ini ada 50 orang yang akan diinkubasi. Siapa saja boleh daftar, lulusan-lulusan SMA. Boleh bawa lamaran langsung ke STIP atau boleh melalui online,’’ ujar Direktur STIP NTB, Muh. Ikhwan, Jumat, 7 Februari 2020.

Iklan

Tahapan inkubasi ini telah dimulai sejak tahun 2019 lalu untuk angkatan pertama. Jumlahnya 20 orang yang saat ini telah memasuki tahun pertama inkubasi. Masa inkubasi berlangsung 2 tahun, sampai dilepas secara mandiri.

Seperti diketahui, salah satu komitmen Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah yang menjadi visi misinya adalah pemberdayaan ekonomi kreatif dan industri yang diwujudkan melalui STIP NTB sebagai UPT Dinas Perindustrian Provinsi NTB.

Ditemui di STIP NTB di Banyumulek, kemarin  Ikhwan mengatakan, untuk tahun 2020 ini, ada sembilan poin yang ingin dicapai. Diantaranya menginkubasi 50 orang wirausaha di bidang olahan dan permesinan. Kemitraan dengan pabrik pakan, kemitraan dengan pabrik baja ringan. Pengembangan lima produk permesinan, sertifikasi 50 produk permesinan IKM logam di NTB, lomba karya inovasi SMA/SMK.

Pembuatan 50 prototipe produk IKM permesinan, pembangunan gedung inkubasi dan menjadikan kawasan STIP  sebagai eduwisata teknologi bagi masyarakat. Konsep inkubasi yang dilakukan di STIP NTB, seperti dipaparkan Ikhwan untuk tahun pertama adalah memastikan  peserta yang akan diikbuasi.

Yang terpilih, pada bulan pertama penempaan teori kewirausahaan, pembentukan karakter dan bedah sukses wirausaha. ‘’Tiga bulan pertama ini, menguatkan pondasi mental wirausahanya agar benar-benar siap menjadi pengusaha,’’ jelas Ikhwan.

Kemudian tiga bulan kedua, pemagangan dan studi banding di perusahaan-perusahaan. Tiga bulan ketiga adalah perencanaan bisnis. Peserta merencanakan akan bergerak di bisnis apa, pengolahan, permesinan, industri dengan seluruh bagian-bagiannya.  Dan tiga bulan keempat adalah mempersiapkan peserta (pra tenant) sebelum dilepas  selama setahun berusaha mandiri.

‘’Nah selama setahun di tahun kedua inilah, mau buat produk olahan apa? Mau buat rekayasa permesinan seperti apa? Peserta sendiri mengembangkan dirinya. Kita fasilitas mesin-mesin pendukung untuk berkreasi. Kita hubungkan dengan mitra (tenant). Setelah dua tahun, baru mereka dilepas menjadi wirausaha. Dengan bekal dua tahun di STIP.’’

‘’Mau jadi pengusaha pengolahan, silakan. Mau jadi pengusaha di logam, silakan. Bekal mereka sudah ada. Itulah proses inkubasi yang ada di STIP,’’ ujarnya. Selama lima tahun, STIP akan mencetak 1.000 pengusaha di bidang pengolahan, permesinan dan logam.

Untuk angkatan pertama sebanyak 20 orang yang diinkubasi sejak 2019, tahun 2020 ini memasuki tahun kedua sebelum dilepas. Selama dua tahun, pemerintah menanggung penuh kebutuhannya. Begitu seterusnya bagi angkatan-angkatan berikutnya.

Pada angkatan pertama inkubasi, 20 orang lebih memilih menjadi pengusaha pengolahan. Membuat bahan baku menjadi produk-produk turunan agar nilai tambahnya lebih besar. Angkatan kedua dan seterusnya ini, diprioritaskan lulusan SMK yang tertarik menjadi pengusaha-pengusaha permesinan dan logam.

‘’Tahun ini agak selektif. Karena STIP ingin mencetak pengusaha-pengusaha yang siap berinovasi membuat mesin ini, mesin itu. Sehingga industrialisasi di NTB berjalan,’’ demikian Ikhwan.(bul)