Sosial Ekonomi, Faktor Penyebab Tingginya Stunting di Lotim

Mahalil Ulil Amri (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Masih tingginya angka stunting di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) masih menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah untuk diselesaikan. Pasalnya, terjadinya stunting yang dialami oleh masyarakat disebabkan oleh multi faktor, terutama sosial ekonomi.

Ditemui di ruang kerjanya, Jumat, 21 Februari 2020, Sekretaris Dinas Kesehatan Lotim, Mahalil Ulil Amri, mengatakan stunting berdasarkan hasil survei kesehatan dan demografi yang menggunakan indikator berat dan umur, angka stunting sebanyak 43,52 persen. Sehingga apabila melihat tren penurunan dari survei 2013-2018 terdapat penurunan stunting dari angka 43,52 persen menjadi 42 persen atau menurun sebesar, 0,8 persen.

Iklan

Penurunan tersebut dapat ditingkatkan kembali pada tahun-tahun berikutnya selama lima tahun sekali. Salah satu langkah yang dilakukan dengan membentuk tim percepatan penurunan stunting,  jika Indonesia menargetkan 5-10 persen, sehingga per tahun diharapkan adanya penurunan stunting 1-2 persen. Untuk itu dari tahun 2018 sampai 2023 tercapai penurunan hingga 5 persen.

Ulil Amri menjelaskan masih tingginya angka stunting di daerah ini dikarenakan Kabupaten Lotim memiliki jumlah penduduk paling tinggi. Di mana proyeksi kelahiran di Kabupaten Lotim per tahun sebanyak 25-26 ribu orang. “Perbandingan untuk stunting ini antara berat badan dengan umur dari seharusnya dan dapat dilihat pada usia balita dan anak-anak,”jelasnya.

Untuk mengatasi stunting, ujarnya, terdapat dua kegiatan penting yang dilakukan, yakni sensitif dan spesifik. Intervensi keduanya dilaksanakan di Kabupaten Lotim dengan melakukan kerjasama untuk mendapatkan dukungan bahwa penanganan stunting dari alokasi dana desa (ADD) sebesar Rp20 persen. Sehingga diharapkan dapat menjadi pecegahan dan penekanan angka stunting.

Selain itu, stunting tidak dapat dilakukan intervensi kecuali sejak 1000 hari kelahiran. Mulai dari perkawinan usia anak harus dihindari dengan memberikan tablet gizi untuk mewujudkan pasangan usia subur termasuk saat proses kehamilan. Tidak hanya itu menginisiasi dengan diberikan makanan tambahan di samping Gerakan Masyarakat Sehat (Germas). Hal tersebut dikarenakan stunting disebabkan oleh permasalahan multi faktor, terutama sosial ekonomi. (yon)