Soal Pernikahan Dini, LPA Jangan Asbun

Mataram (Suara NTB) – Kepala Badan Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP2KB) Kota Mataram, mengkritik pernyataan Koordinator Bidang Advokasi LPA NTB, Joko Jumadi yang menyebutkan bahwa angka pernikahan dini tinggi tinggi di Mataram. Padahal, sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) dan kantor urusan agama pernikahan generasi muda di atas 20 tahun.

“Mereka dapat data dari mana? Jangan asal bunyi (asbun) saja,” kritik Kepala BP2KB Kota Mataram, Drs. Sutrisno pekan kemarin.

Iklan

Kemungkinan kasus yang disampaikan oleh LPA secara kebetulan menemukan kasus di satu tempat. Tidak bisa kemudian digeneralisir menjadi kasus yang besar. Sebab kata dia, KUA selalu memperingatkan generasi muda yang ingin menikah. Kalaupun ada anak ingin menikah tidak sesuai persyaratan dari segi usia, KUA tidak berani menikahkan karena berpotensi terhadap pelanggaran hukum

“Tidak berani KUA menikahkan orang belum cukup umur. Bisa dipenjara mereka,” ujarnya.

Semestinya LPA kata Sutrisno, mencantumkan data dan sumber akurat. Tidak boleh mengekspos data tapi tidak jelas sumber yang bisa dipertanggungjawabkan. Jika itu benar, pihaknya mencari data dan berkoordinasi dengan LPA.

Mengantisipasi pernikahan dini marak terjadi, upaya tetap dilakukan. Diantaranya, sosialisasi, orientasi dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemuda melalui karang taruna. Gerakan tersebut secara masif, dengan tujuan generasi muda dan para tokoh menyarankan agar tidak ada kawin muda di tengah masyarakat.

Upaya lain sebutnya, dari aspek pendidikan Pemkot Mataram telah mewajibkan belajar 12 tahun. Siswa tidak mampu digratiskan sekolah hingga jenjang pendidikan SMA. Artinya, pemerintah betul – betul memperhatikan generasi muda.

“Pak Wali dan Pak Wakil sangat memperhatikan dan peduli dengan generasi muda di Mataram,” imbuhnya.

Sutrisno menambahkan, jargon kenakan baju wisudamu sebelum baju pengantinmu gencar disosialisasikan. Pihaknya melibatkan berbagai element masyarakat dengan memberikan penyuluhan dan sosialisasi. Dengan harapan, masyarakat terlibat memberikan penyadaran kepada generasi muda.

Diberitakan sebelumnya, Koordinator Advokasi LPA NTB, Joko Jumadi menyebutkan bahwa angka pernikahan dini di Kota Mataram tinggi. Namun demikian, tidak disebutkan berapa jumlah pernikahan anak di bawah usia kurun waktu tertentu. (cem)