SMKN 1 Kuripan Kembangkan Pengelolaan Pertanian Terpadu

Pengelolaan sistem pertanian terpadu di SMKN 1 Kuripan. Pengelolaan ini diharapkan bisa menjadi salah satu cara meningkatkan ketahanan pangan di daerah ini. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (Suara NTB) – Ketersediaan lahan yang memadai jadi masalah ketahanan pangan secara global saat ini. Adanya konservasi lahan menjadi hantu bagi ketersediaan pangan di masa mendatang. Untuk itu, semua pihak diharapkan mampu mencari alternatif lain untuk menyangga ketersediaan pangan secara nasional maupun di daerah-daerah.

Sebagaimana dilakukan SMKN 1 Kuripan Lombok Barat (Lobar). Di tempat ini, seolah tengah mengembangkan sistem pengelolaan pertanian terpadu integrated farming system. Dengan sistem ini memungkinan bagi SMK memberikan kontribusi bagi terwujudnya ketahanan pangan melalui pembelajaran di SMK Pertanian.

Iklan

Kepala SMKN 1 Kuripan, H. Khaerul Ahmad, M.Pd., menyebut sistem pertanian terpadu ialah sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, dan perikanan kehutanan dan ilmu lain dalam satu lahan. Konsep pertanian terintegrasi ini dikembangkan melihat fakta semakin berkurangnya lahan-lahan produktif pertanian menjadi alih fungsi akibat dampak pembangunan, sehingga diharapkan sebagai solusi bagi peningkatan produktivitas lahan akibat adanya program pembangunan dan konservasi lingkungan yang berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, sistem pertanian terpadu dikembangkan melalui program unggulan yang disebut sebagai teaching factory. Adapun teaching factory, yakni pembelajaran yang berorientasi pada bisnis dan produksi.

“Kita berupaya di lapangan untuk mensinergikan bahwa harus ada perkawinan massal antara dunia pendidikan  dan di lapangan,” paparnya.

Menurutnya, terdapat berbagai bentuk implementasi dalam megembangkan integrated farming system. Diantaranya ialah melalui pengelolaan tanaman terpadu mulai dari meliputi cara tanam, pola tanam, perawatan tanam, dan metode tanam.

Khusus untuk pola tanam, pihaknya menggunakan pola tanam tumpang sari yang meliputi banyak jenis tanaman dalam satu lahan, sehingga lebih efektif. Ini digunakan untuk menyiasati ketersediaan lahan produktif yang makin menghilang. Dengan pola tanam tumpang sari, petani akan menghasilkan produktivitas hasil pertanian yang tentu saja bisa mendukung ketersediaan pangan.

Sementara untuk pengelolaan hama terpadu, pihaknya menggunakan pestisida efektif dan ramah lingkungan. Meski demikian, tidak selamanya pihaknya menggunakan pestisida dari bahan kimia. Akan tetapi juga secara biologis. (dys)