Siswa SMP di KLU Diajar Cara Kendalikan Sampah

Satu siswa SMP di KLU sedang membersihkan sampah di salah satu pantai. Siswa SMP di KLU dilibatkan sebagai penggerak masalah kebersihan di lingkungan tempat tinggalnya. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Organisasi nirlaba Trash Hero Indonesia, terus bergerak membantu menangani sampah plastik di berbagai kawasan wisata. Pengendalian sampah dilakukan setiap Jumat pagi, dengan melibatkan berbagai kalangan, termasuk siswa sekolah (SMP).

Pendiri Trash Hero, Sutikno, Selasa, 12 Januari 2021 mengatakan, pihaknya sudah mulai memberi edukasi penanganan sampah, terutama sampah plastik di kalangan siswa. Meski dilakukan secara terbatas, namun pemahaman siswa ini diharapkan tertular ke siswa lain di lingkungan sekolah.

“Kami sudah memulai edukasi kepada sebagian siswa SMP. Harapannya (kepedulian lingkungan) bisa dibawa ke sekolah untuk menjadi contoh teman-teman sekolah lain akan bahayanya sampah plastik,” ujar Sutikno.

Ia menjelaskan, Trash Hero fokus untuk membantu program pengendalian sampah di kalangan masyarakat, khususnya wilayah Kecamatan Bayan. Di hari Jumat setiap pekannya, Trash Hero menjadwalkan pembersihan sampah plastik di berbagai lokasi wisata. Mulai dari pantai, lokasi air terjun, pusat-pusat pemerintahan, hingga ke lokasi pulau kecil (Gili).

“Di Gili Kondo (kabupaten Lombok Timur), kami turun hari Jumat lalu dan mengumpulkan 580 kg sampah dari pantai,” imbuhnya.

Di samping sampah, pengendalian lingkungan juga dilakukan Sutikno melalui organisasi Saifana Organic Farm. Beberapa waktu lalu, organisasi yang dipimpinnya telah memulai membuat gerakan Gardens Community (Kebun Komunitas)

Gerakan ini ia mulai di Desa Sambik Elen. Upaya ini dilakukan untuk mendorong aktivitas ekonomi warga yang menurun akibat krisis Covid. Ia menyadari, Lombok Utara bagian utara sangat bergantung pada pariwisata. Sebagian besar pelaku wisata, tidak mengetahui kapan bisa menyambut pengunjung seperti sebelumnya.

“Kebun Komunitas memiliki tujuan, untuk menanam sumber makanan untuk menghidupi keluarga mereka, tetapi juga untuk dapat membuat lumbung bersama di mana penduduk desa dapat bertukar hasil panen mereka dengan apa yang mereka miliki. Semua ini untuk keluar dari sistem berbasis uang,” sebutnya.

Sepanjang upaya yang sudah dilakukan, beberapa kelompok sudah mulai membuat kebun sayur di lokasi berbeda-beda. Ia optimis dengan antusiasme masyarakat, warga desa akan terhindar dari kelesuan ekonomi. Sebab warga bisa berbagi ladang dengan kelompok wanita dari desa desa setempat.

“Peran kami dalam proyek ini adalah untuk berbagi pengalaman kami sendiri dengan teknik permakultur yang kami kembangkan di pertanian dan bagaimana kami menghadapi tantangan sedikit air, tanah yang sangat berpasir dan berbatu, serta cuaca yang sangat panas,” pungkasnya. (ari)