Siswa SD Tinggal dan Belajar di Pemakaman

Selong (Suara NTB) – Sabtu, 17 Desember 2016, Pemprov NTB baru saja memperingati hari ulang tahun ke 58. Di usia lebih dari setengah abad dengan euforia pejabat mengenakan pakaian adat. Namun, di balik perayaan itu, masih ada siswa SD yang tinggal dan belajar di pemakaman.

Kondisi ini kontras dengan kehidupan masyarakat di Desa Labuhan Lombok Lombok Timur. Sebagai daerah penyumbang ikan laut di NTB, seharusnya tak ada manusia tenda seperti saat ini.

Iklan

Kenyataannya, Rita, M. Sofyan dan sang ibu Nurhasanah, adalah salah satu potret kemiskinan di NTB, khususnya Kabupaten Lombok Timur. Mereka bertiga tinggal dan menyelesaikan tugas sekolah di pemakaman keluarga di Desa Labuhan Lombok.

Rumah tempat mereka tinggal hanya terbuat dari sebuah tenda lusuh. Dengan tiang dari batang pohon diambil di pinggir jalan. Tak ada barang berharga maupun pencahayaan. Hanya ada kasur kumal disesaki perabotan dapur jadi satu.

Kasur sederhana itu adalah alas tidur mereka bertiga. Alas yang dijadikan penghangat tubuh sekaligus pembatas antara tanah dengan tubuh mungil Rita dan adiknya.

Tenda berwarna dibangun ala kadar dan berdiri tak sempurna tak mampu menahan guyuran hujan. Kasur mereka basah. Nurhasanah hanya bisa mengeringkan dengan kain bekas, agar kedua anaknya bisa terlelap tidur.

Lahan dijadikan tempat tinggal saat ini bukan milik mereka. Melainkan tanah yang dijadikan sebagai pemakaman keluarga oleh salah seorang pengusaha di Labuhan Lombok. Lokasi tempatnya tinggal ini pun jaraknya hanya 10 meter dari tempat pemakaman umum.

Rita dan adiknya M. Sofyan serta Nurhasanah berusaha tegar menutupi kepedihannya. Berpisah dengan ayahnya akibat perceraian membuatnya pasrah. Ia tetap ceria dan semangat melanjutkan pendidikannya. Meski di tengah keterbatasan, lampu minyak sederhana dijadikan penerangan untuk tetap mengerjakan tugas sekolah.

Lampu terbuat dari kaleng bekas persis di sisi kanan tenda sekaligus dijadikan penghangat. Justru ini sangat beresiko bahkan membahayakan nyawa mereka.

Saat ini, Rita duduk kelas IV MI NW Labuhan Lombok. Bocah 9 tahun ini adalah korban perceraian orang tuanya. Sempat, ia tinggal bersama ibu tirinya, tapi Nurhasanah mengambilnya kembali, karena tak mau anaknya disia-siakan.

Sementara adiknya, M. Sofyan kelas I di SDN 2 Labuhan Lombok. Status Rita dan Sofyan, kakak – beradik tapi lain ayah. Maklum saja, Nurhasanah sang ibu sudah menikah dan bercerai sebanyak tiga kali. Sofyan ini anak terakhir dari suaminya yang terakhir.

Rita terlihat terus mendekap tangan ibunya. Ia canggung ketika diajak berkomunikasi. Sesekali, ia tertawa kecil sambil menunduk. Hanya sedikit celoteh disampaikan dari bibir mungilnya.

Meski tinggal di pemakaman, Rita mengaku nyaman dan tidak ada rasa takut sedikit pun.

Tiga bulan menetap membuatnya terbiasa dengan deretan nisan di depan dan samping tenda lusuh tempatnya tinggal. “Udah tidak takut lagi,” jawabnya menggunakan Bahasa Sasak, pekan kemarin.

Menariknya, di tengah keterbatasan ekonomi, ia tetap ingin melanjutkan sekolah. Meski tak terbayang bercita – cita sebagai apa. Pentingnya pendidikan seolah jadi katalisator baginya. Walau bukan jadi siswa berprestasi, Rita ingin tetap bermain sambil belajar dengan teman seusianya.

“Mau sekolah sampai SMA,” jawabnya polos.

Beberapa menit, ia terdiam meski berulangkali ditanya. Dengan nada lirih, ia berucap ingin keluar dari himpitan kemiskinan dan membahagiakan ibunya.

Derita dialami saat ini tak ingin ditanggung sendiri oleh ibunya. Usai sekolah dan menyelesaikan tugasnya, Rita mengemis ke toko – toko bahkan warung bakso. Uang didapatkan digunakan beli beras dan jajan sekolah.

Yang mengharuskan, hidup dengan serba keterbatasan. Rita tetap menyempatkan diri belajar. Di dalam tenda lusuh yang diterangi cahaya lampu minyak, ia dan adiknya mengerjakan tugas sekolah.

Nurhasanah sebenarnya tak ingin melihat kedua buah hatinya menderita. Berbagai upaya dikerjakan termasuk bekerja menjadi seorang pemulung. Botol bekas mampu dikumpulkan sehari 1 – 2 kilogram. Itupun tak langsung dijual. Ia sengaja mengumpulkan dan baru akan menjual ketika barang rongsok itu sudah 20 kilogram.

Hasilnya tak seberapa. Satu kilogram botol bekas dihargai Rp 1.000. Artinya, Nurhasanah hanya mendapatkan uang Rp 20.000. Uang hasil memulung itu digunakan membeli beras. Sisanya membeli cabai dan kerupuk serta uang jajan kedua anaknya.

“Saya makan pakai krupuk dan sambel totok (sambel terbuat dari cabai, garam dan terasi,red),” tuturnya.

Ia mengaku, kedua anaknya terkadang tak membawa uang jajan ke sekolah. Cukup sarapan dengan nasi sisa yang dicampur dengan garam sebagai pengganjal perut.

Nurhasanah memilih tinggal di pemakaman itu karena tidak tahu harus kemana. Setelah bercerai tiga tahun lalu, hidupnya luntang – lantung. Perempuan asal Sakra Timur ini, sengaja tak ingin pulang ke kampung halaman,karena khawatir akan jadi beban keluarga. “Saya pulang lebaran saja,” ucapnya.

Pendengaran perempuan berkepala empat ini tak begitu jelas. Kadang harus berbicara dengan keras baru ia merespons.

Untuk aktivitas memasak, Nurhasanah menggunakan ranting pohon diambil di kebun warga. Memasak nasi dengan lauk krupuk dan sambil terasi dianggap sudah cukup. Ia bersyukur kedua anaknya tak banyak tuntutan dan mengerti. Kebutuhan MCK, ia memasang kain di tembok pemakaman sebagai penutup.

Nurhasanah mengaku mendapat kartu sakti dari pemerintah. Bantuan itu tak seberapa dan hanya bisa memenuhi kebutuhannya beberapa pekan saja.

Disosdukcapil NTB Beri Bantuan
Dinas Sosial dan Kependudukan Catatan Sipil (Disosdukcapil) NTB, cukup responsif terhadap informasi disampaikan wartawan. Minggu, 18 Desember 2016, langsung memberikan bantuan kepada Nurhasanah.

Kepala Disosdukcapil NTB, H. Ahsanul Khalik mengaku, sejak hari Sabtu, 17 Desember 2016 pekan telah meminta Sakti Peksos turun menindaklanjuti laporan ini. Berbagai upaya dilakukan petugas agar bersangkutan mau pindah. Akan tetapi, Nurhasanah ngotot tetap bertahan di lokasi tersebut.

“Dia betah mau jaga kebun itu. Padahal kita sudah minta pindah dan dicarikan rumah,” kata Khalik.

Yang dipikirkan kata Khalik, nasib kedua anaknya tersebut. Rita dan Sofyan masih memiliki masa depan yang harus diselamatkan. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Panti Sosial Paramitha dan panti lainnya, mereka siap menerima. Tapi jadi kendala, orangtuanya tetap tidak mau.

Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Unit PPA Polres Lombok Timur agar menyelamatkan anak secara paksa. Hal itu sebagai alternatif terakhir bilamana sudah tidak ada solusi. “Kalau sudah tidak ada jalan keluar negara bisa ambil paksa anaknya,” tegasnya.

Mantan Kadis Sosnakertrans Kota Mataram menambahkan, akan melihat psikologis kedua anak tersebut. Jangan sampai jadi persoalan ketika berpisah dengan ibunya. Penanganan jangka pendek, pihaknya telah memberikan dua tenda, matras dan kebutuhan lainnya. (cem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here