Siswa SD Terpaksa Belajar di Bawah Tenda Tak Layak

Kondisi belajar mengajar  di SDN 1 Malaka yang masih belajar di bawah tenda yang tidak layak. Meskipun tenda rusak, namun anak-anak korban gempa tetap bersemangat bersekolah. (Suara NTB/nas)

Tanjung (Suara NTB) – Tiga bulan pascagempa NTB, masih ditemukan anak-anak sekolah belajar di bawah tenda-tendar darurat  yang tak layak dan memprihatinkan. Meskipun demikian, anak-anak korban dan guru tetap  bersemangat.

Kondisi tersebut terlihat di SDN 1 Malaka Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara (KLU). Sekolah ini mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa beberapa bulan lalu, sehingga tak dapat digunakan.

Iklan

Sehingga, para siswa dan siswi terpaksa belajar di bawah tenda. Pantauan Suara NTB, Rabu, 31 Oktober 2018 siang, terdapat dua tenda yang dibangun. Satu tenda merupakan bantuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Satu tenda lagi, yang kondisinya sangat tidak layak dibangun swadaya.

‘’Proses belajar mengajar tak maksimal. Tempatnya sangat tidak layak kalau dibandingkan sebelumnya. Tapi apa boleh buat,’’ kata guru SDN 1 Malaka, Siti Laela ketika dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 31 Oktober 2018.

Ia mengatakan, enam rombongan belajar terpaksa harus dibagi menjadi dua. Untuk kelas 1 – 3 berada pada satu tenda. Dan kelas 4 – 6 berada dalam satu tenda yang lain. Dengan kondisi seperti ini, kata Laela, proses belajar mengajar hanya sampai pukul 10.00 Wita. Sedangkan satu jam berikutnya hanya tanya jawab saja.

‘’Karena saat ini kita mau mengarah ke ujian semester. Jadi kita usahakan semaksimal mungkin,’’ katanya.

Dengan kondisi seperti itu, kata Laela siswa terpaksa dikelompokkan. Karena jika dipisah per kelas dengan kondisi tenda yang sangat tidak representatif maka tidak efektif untuk belajar mengajar. Sehinga tiga kelas dikelompokkan jadi satu.

Saat ini, katanya, salah satu organisasi non pemerintah sedang membangun sekolah darurat. Namun jumlahnya hanya tiga lokal. Sementara jumlah rombel ada enam. Sehingga masih kurang tiga lokal.

‘’Ini yang bisa cuma tiga saja. Jadi di sana nanti berkelompok lagi,’’ ujarnya.

Jumlah siswa dan siswi SDN 1 Malaka, sebut Laela sebanyak 180 orang. Meskipun anak-anak korban gempa masih belajar di bawah tenda yang tidak layak, namun mereka tetap bersemangat bersekolah.

‘’Anak-anak tetap tetap semangat masuk sekolah. Meskipun terpalnya terbang lagi, rusak lagi,’’ tuturnya. (nas)