Siswa Positif Covid-19, Pembelajaran Tatap Muka Berlanjut

Lalu Fatwir Uzali. (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram tetap akan menggelar pembelajaran tatap muka pada Kamis, 14 Januari 2021. Meskipun diketahui dua orang siswa terkonfirmasi positif coronavirus disease atau Covid-19. Standar operasional prosedur (SOP) penerapan protokol kesehatan (prokes) telah dipersiapkan secara matang.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Drs. H. Lalu Fatwir Uzali menyampaikan, belum ada perubahan kebijakan dari tim gugus tugas penanganan Covid-19 Kota Mataram, terkait pembelajaran tatap muka di sekolah. Simulasi pembelajaran di sekolah mengacu izin yang diterima dari hasil rapat forum komunikasi pimpinan daerah. “Belum ada perubahan kebijakan berupa pembatalan. Kita mengacu dari hasil rapat pekan kemarin,” kata Fatwir dikonfirmasi, Selasa, 12 Januari 2021.

Fatwir mengetahui dua siswa sekolah menengah atas terkonfirmasi positif Covid-19. Kasus ini sangat diatensi sehingga meminta sekolah secara ketat melaksanakan protokol kesehatan. Saat ini sekolah sedang mempersiapkan diri menyusun SOP serta fasilitas lainnya. “Sejak kemarin sekolah menyiapkan dan mensosialisasikan ke orangtua siswa,” ujarnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Mahfuddin Noer menambahkan, simulasi pembelajaran tatap muka berdasarkan hasil rapat sudah bisa dimulai oleh sekolah. Teknis pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya ke Dinas Pendidikan. “Belum ada perubahan sejauh ini untuk pembelajaran tatap muka,” tambah Mahfuddin.

Siswa yang terkonfirmasi positif Covid-19 akan menjadi pertimbangan tim gugus tugas untuk melakukan evaluasi. Pembukaan sekolah secara menyeluruh harus ada persyaratan – persyaratan harus diterapkan oleh sekolah. Manakala di sekolah ditemukan kasus positif harus dilakukan penutupan sementara untuk menghindari penularan.

BPBD telah melakukan penyemprotan cairan disinfektan di sekolah. Penyemprotan akan ditingkatkan menjelang pembelajaran tatap muka. “Kita siap melakukan penyemprotan ke semua sekolah,” ucapnya.

Selain itu, alat pengukur suhu dan tempat pencuci tangan juga telah diberikan ke Disdik untuk didistribusikan ke sekolah.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Kota Mataram, Joko Jumadi menyampaikan, pemerintah perlu mempertimbangan secara matang urgensi dari pembukaan sekolah. Akhir – akhir ini, kenaikan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 meningkat signifikan. Jika pun harus dilaksanakan perlu dikembalikan kesiapan dari masing – masing sekolah, anak – anak dan orangtua. Artinya, jangan sampai ketika orangtua tidak mengizinkan anak sekolah malah mendapat diskriminasi. Sementara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan peluang bagi anak untuk tidak sekolah jika khawatir terpapar virus corona. “Harus dipastikan kesiapan penerapan protokol kesehatan,” kata Joko.

Dengan kondisi sekarang ini, mestinya sekolah harus menyiapkan dua metode pembelajaran baik belajar secara daring dan secara langsung. Prediksi melonjaknya kasus pada pertengahan hingga akhir Januari seharusnya menjadi pertimbangan Dinas Pendidikan. Dikbud sambung Joko, harus melibatkan Satgas Covid-19, karena mengedukasi siswa serta memasatikan protokol kesehatan dilaksanakan secara ketat tidaklah mudah. “Apalagi di tengah masyarakat yang tidak percaya Covid-19. Ini bakal menjadi tantangan,” paparnya.

Dia menyarankan pembelajaran tatap muka langsung tidak digelar. Penularan virus corona tidak mengenal usia. Anak – anak rentan terpapar karena rendahnya kesadaran mematuhi protokol kesehatan. Menurutnya, guru tidak mungkin melarang anak – anak bermain dengan teman kelasnya. Padahal disinilah letak potensi terjadi penularan. Apalagi orang tanpa gejala (OTG) sangat tinggi. “OTG ini bisa saja anak – anak kena karena mereka tidak tahu kondisi kesehatannya,” ujarnya. (cem)