Siswa Bisa Akses Internet di Kantor Lurah

Ilustrasi koneksi internet.(Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) — Permasalahan sarana untuk Belajar dari Rumah (BDR) secara daring terjadi di tengah masyarakat. Salah satunya, ada masyarakat yang tidak memiliki akses internet. Untuk mengatasi itu, Dinas Pendidikan Kota Mataram menyarankan agar siswa mengakses internet di kantor lurah dan camat di Kota Mataram.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Drs. H. Lalu Fatwir Uzali, S.Pd., MM., pada akhir pekan kemarin mengatakan, pihaknya menyarankan kepada masyarakat yang tidak memiliki akses internet untuk belajar secara daring, agar mencari titik WiFi di Kota Mataram. Ia menyebut ada sekitar 15 titik WiFi di Kota Mataram yang bisa digunakan, terutama di kantor lurah dan kantor camat. Akses internet itu untuk memudahkan siswa mengakses pelajaran secara daring.
“Kami sudah sampaikan kepada pemerintah Kota Mataram supaya membuka akses penggunaan WiFi dan internet di kantor camat dan kantor lurah,” ujar Fatwir.

Fatwir menjelaskan, pelaksanaan BDR akan dimulai Senin, 27 Juli 2020. Fatwir menegaskan, pada pelaksanaan BDR itu, siswa belum boleh masuk sekolah. “Kita tetap belajar daring, modul pembelajaran kami siapkan. Ada modulnya, untuk luring dan daring, mengatasi anak yang tidak punya sarana atau tidak punya kuota,” ujarnya.

Ia mengatakan, guru-guru saat ini sedang membuat modul. Modul yang disiapkan itu untuk memudahkan pelaksanaan BDR. Bahan dari modul itu yang akan diberikan secara daring kepada siswa, bisa melalui aplikasi pesan instan WhatsApp. Meski demikian, modul itu juga akan digunakan untuk BDR secara luring bagi siswa yang tidak memiliki sarana memadai dalam mengakses pembelajaran daring. “Sekarang teman-teman guru sedang membahas pemberian modul itu untuk luring,” katanya.

Terkait pemberian modul untuk BDR secara luring, Fatwir mengatakan sudah ada beberapa konsep yang bisa digunakan antara lain siswa bisa mengambil ke sekolah pada jam-jam tertentu sesuai jadwal yang diatur. Selain itu, orang tua siswa juga bisa mengambil modul dengan sistem layanan tanpa turun dari kendaraan atau drive-through. Atau guru mengantari ke rumah siswa yang dekat dengan sekolah. “Juga cara lainnya yang bisa digunakan untuk meminimalisasi kerumunan orang,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Seksi Kurikulum dan Penilaian pada Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Mataram, Syarafudin menjelaskan, pihaknya memberikan penjelasan agar sekolah memberikan materi esensi atau materi pokok sesuai dengan standar kompetensi lulusan, bukan memberika materi pengembangan. “Memang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan tidak harus menuntaskan kurikulum, tapi kalau bisa menuntaskan kurikulum malah bagus,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 5 Mataram, H. Muhamad Ali, pihaknya sudah mengumpulkan guru untuk rapat membahas sistem pelaksanaan BDR. Juga mengadakan lokakarya bimbingan teknis pembelajaran daring. Dalam bimbingan teknis itu narasumber menjelaskan penggunaan aplikasi yang bisa digunakan saat BDR.

Ali juga mengakui tidak semua siswa memiliki peralatan pendukung BDR secara daring. Oleh karena itu pihaknya akan mengombinasikan pembelajaran secara luring, salah satunya menyiapkan modul. “Modul dibuat di MGMP di Kota Mataram,” ujarnya. (ron)