Sistem Angkut Buang Tidak Berjalan, Mataram Darurat Sampah

Rapat kerja penanganan sampah di Kota Mataram. Program penanganan sampah ini menjadi salah satu prioritas Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana. (Suara NTB/fit)

Mataram (Suara NTB) – Rapat kerja DPRD Kota Mataram dengan sejumlah pimpinan OPD lingkup Kota Mataram, Selasa, 2 Maret 2021 mengulik kompleksnya persoalan sampah di Mataram. Kota Mataram digambarkan dalam kondisi darurat sampah. Faktor penyebabnya, antara lain tidak berjalannya sistem angkut buang dari rumah tangga ke TPS.

Kepala Dinas PUPR Kota Mataram, Miftahurahman dalam rapat yang dipimpin Ketua DPRD Kota Mataram, H. Didi Sumardi, SH., mengungkapkan, jadwal pembuangan sampah yang dibatasi sampai jam 6 pagi, nyatanya tidak berjalan sebagaimana mestinya. ‘’Masyarakat buang sampah terus menerus sampai malam hari. Nah kita tidak ada ketegasan soal itu,’’ ujarnya.

Iklan

Dikatakan Miftah, kalau jadwal buang sampah dikembalikan, dia yakin persoalan sampah di TPS dapat diatasi. Oleh karena itu, Camat/Lurah diminta mengingatkan warganya untuk mematuhi jam buang sampah. Tidak hanya warga, para petugas penyapu jalan juga diminta lebih tertib dalam melaksanakan tugasnya. Pada kesempatan itu, dia mendorong diterapkan Perda Kota Mataram nomor 1 tahun 2019 tentang pengelolaan sampah berikut sanksinya.

‘’Agar memberi efek jera. Tidak saja terhadap masyarakat tapi juga petugas pengelola yang menyalahi cara membantu kita dalam kaitan dengan penanganan sampah. Kalau petugasnya sendiri tidak benar, bagaimana dengan masyarakat,’’ katanya.

Camat Mataram Zarkasyi mengatakan, jadwal angkut sampah ke TPS sulit dilaksanakan lantaran armada angkutan sampah yang terbatas ditambah dengan jarak yang cukup jauh. ‘’Artinya butuh waktu. Satu lingkungan saja bisa mengangkut tiga kali,’’ sebutnya. Oleh karena itu, dia mengusulkan agar lingkungan memiliki TPS masing-masing. Sehingga tidak ada kecemburuan antara kelurahan.

Camat Ampenan, Syamsul Irawan mengatakan, langkah yang paling krusial dalam penanganan sampah di Mataram adalah membenahi sarana dan prasarana DLH. ‘’Apabila LH sudah punya tempat buang sampah yang pas, maka sistem di bawah akan terbangun dengan baik. Masalahnya sekarang, banyak tempat penampungan sampah muncul,’’ ucapnya.

Kepala Bappeda Kota Mataram, Ir. Amirudin, M.Si., mengatakan masyarakat Kota Mataram menghasilkan sekitar 324 ton sampah per hari. Dari 324 ton itu, 30 persen harus dilakukan pengurangan. Sayangnya, dari jumlah yang harus dikurangi itu sebelum masuk TPA, ini belum diapa-apakan. ‘’Jadi kalau dikalkulasikan ada sekitar 45 ton sampah yang tidak diurus, masih berserakan,’’ ungkapnya.

Ketua DPRD Kota Mataram, H. Didi Sumardi, SH., meminta Pemkot Mataram memikirkan alternatif pembuangan sampah. Mengingat TPA Kebon Kongok yang tidak lama lagi akan berakhir penggunaannya. Didi mendorong solusi cepat untuk penanganan sampah. Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang berjanji akan melanjutkan rapat teknis terkait hal itu.

‘’Langkah konkret apa yang bisa kita hasilkan dalam seratus hari ini untuk menjawab 14 poin yang saya catat,’’ cetusnya. Bappeda Kota Mataram diminta memfasilitasi pertemuan dimaksud. ‘’Dalam waktu yang secepatnya, dalam tempo yang secepatnya juga,’’ demikian Martawang. (fit)

Advertisement filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional