Sisi Lain Debat Paslon Pilkada KLU, Telat Datang 20 Menit, Pulang Diantar Barakuda Polisi

Calon Bupati KLU, H. Najmul Akhyar, diantar pulang menggunakan kendaraan Barakuda. Polisi terpaksa menempuh cara ini karena khawatir muncul dampak usai Paslon berkomentar mobilnya diludahi warga. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) -Debat kedua Paslon Bupati dan Wakil Bupati Pilkada Kabupaten Lombok Utara (KLU), berhasil menyita perhatian publik. Meski materi debat yang disiapkan tim pakar terkesan monoton, namun manuver (argumen) yang disampaikan Paslon saat debat menunjukkan kualitas masing-masing Paslon untuk dapat dikatakan layak memimpin Lombok Utara.

Keseruan debat kedua, diawali oleh antusiasme warga, khususnya pendukung JODA AKBAR (Djohan – Danny). Ratusan, bahkan ribuan warga berjejer di sepanjang jalan mengiring dan memberi semangat untuk pasangan JODA. Mereka meneriakkan yel-yel “Sanggup, Sanggup, Sanggup” saat kendaraan Paslon JODA berangkat dari Balai Djoeang, Tanjung.

Pantauan koran ini, ruas jalan permukiman padat penduduk dipenuhi oleh pendukung JODA. Mulai dari Tanjung, Tanak Song, Karang Kates, Lekok, Gondang hingga pertigaan Lendang Bagian, warga berkumpul dengan mengepalkan tangan tanda sanggup. Kendaraan Paslon Najmul Akhyar (paket NADI) yang berangkat dari Menggala juga tidak luput dari teriakan dan antusiasme ribuan warga di dua kecamatan itu.

Sebagaimana undangan KPU, pelaksanaan debat harusnya dimulai pada pukul 20.00 WITA. Paslon diharuskan hadir 30 menit lebih awal. Faktanya, kubu NADI menyita waktu dengan keterlambatan 7 menit dan 20 menit. Pada pukul 20.07 wita, Najmul – Suardi belum tiba di KPU – lokasi debat.

Calon Wabup, Suardi didampingi istri dan Walpri, terlihat tiba di KPU pukul 20.08 WITA. Sedangkan Najmul dan rombongan, baru tiba di KPU pukul 20.20 WITA. Najmul dan rombongan tidak langsung memarkir kendaraan di tempat yang sudah disiapkan Polisi. Ia lebih memilih “mengulur-ulur” waktu dengan berjalan kaki dari pertigaan Polres ke KPU.

Sikap indisipliner calon lawan atas jadwal KPU itu pun membuat Paslon lain meradang. “Saya sempat bicara dengan Komisioner KPU, saya ingin keluar karena kita terlambat hampir 1 jam dari seharusnya hadir pukul 19.30 WITA. Saya sangat kecewa dengan KPU, karena seolah-olah yang kita tunggu ini orang hebat. Apa iya, satu orang yang ditunggu semua mau jadi korban. Saya ingin KPU konsisten pada apa yang direncanakan,” tegas Calon Bupati KLU, Djohan Sjamsu usai acara.

Logika Djohan, KPU seharusnya tetap memulai pukul 20.00 WITA dengan atau tanpa calon lain. Oleh karena itu, ia meminta KPU NTB dan KPU RI menegur keras kebijakan KPU yang tidak mencerminkan integritas pelaksanaan tahapan sesuai waktu yang disepakati bersama LO, Bawaslu, Polisi dan TNI.

Tidak hanya telat, Najmul juga terkesan “berani” menguras emosi warga calon pemilih. Dimana pada debat, ia dengan lantang menyebut bahwa dalam perjalanan ke KPU, kendaraan yang digunakannya diludahi oleh warga.

“Mohon maaf, tadi saudara-saudara kami di Lekok, ya, mobil saya diludahi, kami diteriaki. Anda (Djohan Sjamsu) tidak melakukan apa-apa,” ucap Najmul.

Jawaban Najmul tersebut merupakan tanggapannya menjawab pertanyaan Djohan Sjamsu pada segmen ketiga – Menjaga Keutuhan NKRI berbasis Kearifan Lokal.

Najmul terpancing mengeluarkan (dugaan) peludahan kendaraan oleh masyarakat Lekok lantaran mendapat kritik dari Djohan Sjamsu. Bahwa, Djohan menyebut adanya pengusaha lokal yang tidak diakomodir, ikut membangun daerah melalui profesinya karena yang bersangkutan adalah lawan politik penguasa saat ini.

“Kalau jadi Bupati, (jadilah) Bupati KLU, bukan Bupati Kelompok, bukan Bupati golongan. Tapi jadilah Bupati yang mampu mengayomi rakyatnya,” cetus Djohan menyindir pelaksanaan kebijakan Najmul yang dinilai berseberangan dengan garis besar menjaga keutuhan NKRI.

Akibat pernyataan Petahana itu, riuh rendah komentar warga membias di FB dan group WA. Beberapa warga asal Lekok yang ada di group Whats App kontan membantah tudingan itu.

Sadar akan potensi luapan emosi warga akibat ucapan Najmul, Polres Lombok Utara pun mengambil langkah cepat. Jalur pulang Najmul dari KPU ke Pemenang di jaga ketat. Sejumlah aparat berjaga di titik-titik kerumunan guna menghindari hal yang tidak diinginkan. Najmul dan Suardi pun dikawal pulang menggunakan kendaraan Barakuda milik Polres.

Dikonfirmasi mengenai dugaan peludahan itu, Ketua Tim Relawan NADI, Endri Susanto, yang dimintai pendapatnya enggan berkomentar. Sebaliknya, ia lebih meminta kepada aparat keamanan dan Bawaslu bisa lebih profesional dalam menyukseskan Pilkada KLU.

“Kami meminta aparat keamanan dan Bawaslu bisa lebih profesional dalam menyukseskan Pilkada KLU. Seperti larangan berkerumun guna menaati protokol covid,” ucapnya.

Apakah kerumunan itu yang menyebabkan calon terlambat hadir di KPU? “Ya benar, karena ada kerumunan massa di jalan juga membawa atribut parpol,” jawabnya lagi. (ari)