Sirkuit Mandalika Jadi Magnet Pengusaha Valas

Darda Subadra

KAWASAN Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dengan Sirkuit Mandaliknya menjadi daya tarik tersendiri bagi pemodal, baik di dalam dan luar negeri untuk berinvestasi. Pun demikian halnya bagi para pemodal/pengusaha valuta asing (valas).

Ketua Asosiasi Pengusaha Valuta Asing (APVA) Provinsi NTB, Darda Subadra mengatakan, pembangunan KEK Mandalika yang dikebut oleh pemerintah sebagai program super perioritas nasional rupanya menjadi buah bibir bagi kalangan pengusaha di Indonesia.

Iklan

Apalagi pada November 2021 ini, Sirkuit Mandalika akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan ajang balap motor internasional, World Superbike. Lalu menyusul MotoGP yang rencananya akan dilaksanakan juga di Sirkuit Mandalika pada April 2022 mendatang.

Sirkuit Mandalika adalah sirkuit satu-satunya sirkuit balap motor kelas dunia yang ada di Indonesia. Pembangunannya saat ini terus dikebut dan dirampungkan. Sarana prasarana pendukung dan infrastruktur lainnya juga tengah dibangun.

Darda Subadra mengatakan, hal itulah yang membuat KEK Mandalika menjadi magnet. Hampir seluruh pengusaha valas dari berbagai daerah di Indonesia ingin berinvestasi, membuka layanan penukaran valas di sekitar KEK Mandalika. Karena diperkirakan, dalam jangka panjang tidak sedikit wisatawan yang akan berkunjung kesana, baik domestik maupun mancanegara.

Saat ini ada enam money changer yang beroperasi di sekitar penyangga KEK Mandalika. Jumlah ini dipastikan akan terus bertambah, bahkan diperkirakan akan menjamur. Tidak menjadi soal bagi pengusaha valas di dalam daerah. Yang terpenting dipastikan, pengusaha – pengusaha valas yang masuk ini adalah perusahaan resmi yang sudah berizin.

“Kita sih tidak khawatir makin banyaknya pengusaha valas yang akan masuk di sekitar KEK Mandalika. Bagi wisatawan kan makin banyak pilihan. Yang kita harapkan adalah semuanya berizin resmi sehingga tidak menimbulkan persaingan yang tidak sehat,” harap pemilik money changer PT. Tri Putra Darma Valuta ini.

Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) mewajibkan kepada Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA) atau money changer memiliki izin. Usaha money changer yang ingin mendapatkan izin dari BI utamanya harus berbadan hukum perseroan terbatas (PT). Kepemilikan saham money changer juga sepenuhnya harus dimiliki oleh Warga Negara Indonesia.

Dokumen yang dibutuhkan untuk mendaftarkan money changer ke BI, antara lain fotokopi akta pendirian dan anggaran dasar badan hukum PT, fotokopi pengesahan badan hukum dari otoritas yang berwenang, fotokopi surat keterangan domisili usaha.

Selanjutnya, pemilik money changer juga diwajibkan untuk melampirkan fotokopi NPWP, struktur organisasi, fotokopi rekening koran dari giro, tabungan, atau bilyet deposito atas nama perusahaan, laporan keuangan perusahaan, dan surat keterangan fiskal satu tahun terakhir.(bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional