Sindikat TPPO 84 Calon PMI Ilegal Timteng Ditangkap

Ni Made Pujawati. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Penyelidikan dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) 84 calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTB membuahkan hasil. Polda NTB yang menyelidiki kasus itu menangkap bos sindikat TPPO berinisial H. Pelaku diduga sebagai penampung calon PMI ilegal. Selain itu H juga diduga yang memodali tekong perekrut.

“Masih ingat kan yang 84 dipulangkan itu, dia ini penampungnya,” kata Kasubdit IV Remaja Anak Wanita Ditreskrimum Polda NTB AKBP Ni Made Pujawati ditemui Selasa, 3 Maret 2020. H merupakan Direktur PT Inti Jafarindo, salah satu perusahaan penempatan PMI (P2PMI). “Sekarang sudah diamankan. Kita sudah tahan di Rutan (Polda NTB),” imbuhnya. Pelaku H diduga pemain lama dalam bisnis jual beli orang.

Iklan

Penyelidikan itu juga menemukan bahwa H diduga terkait dengan pengiriman PMI ilegal ke Arab Saudi, dimana korbannya meninggal dunia dalam musibah kebakaran penampungan di Attaqwa, Mekkah, Arab Saudi Jumat 21 Juni 2019. Salah satu korbannya, Siti Nurjanah asal Jago, Praya, Lombok Tengah meninggal dunia bersama tiga orang lain dari NTB. Nurjanah direkrut tersangka tekong Siti Aisyah dengan iming-iming uang fit Rp2 juta. “Pelaku H diduga penampung untuk kasusnya Siti Aisyah,” kata Pujewati.

Sebelumnya diberitakan, Kementerian Tenaga Kerja RI memulangkan 84 calon PMI yang akan diberangkatkan ke Timur Tengah, pada 16 Januari lalu. Keberadaan mereka terungkap dari Sidak Kemenaker di sebuah rumah di Jakarta Timur, DKI Jakarta, 27 Desember 2019. Calon PMI ilegal itu diduga merupakan korban calo atau sponsor. Mereka akan dipekerjakan pada pemberi kerja perseorangan atau rumah tangga di negara Timteng seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman dan Bahrain.

Para korban tersebut direkrut langsung calo atau sponsor. Iming-imingnya, imbalan duit antara Rp3-10 juta. Dari 84 calon CPMI asal NTB yang dipulangkan itu, sebanyak 15 orang berasal dari Lombok Timur, 30 orang dari Lombok Barat, 33 orang dari Lombok Tengah, 3 orang dari Sumbawa dan 3 orang dari Kota Mataram. (why)