Simulasi PTM Penuh Harus Perhatikan Tercapainya Kekebalan Wilayah Sekolah

H. Aidy Furqan (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) –  Rencana simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) penuh harus dipersiapkan dengan baik. Sekolah harus mencapai syarat kekebalan wilayah sekolah atau warga sekolah yang sudah divaksin melebih 80 persen dari total seluruh warga sekolah.

Hal itu disampaikan pemerhati pendidikan yang juga Wakil Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Mansur. Menurutnya, dari data terakhir, NTB memang layak mempertimbangkan pembelajaran tatap muka secara penuh. Namun sebaiknya didahului dengan simulasi. Saat simulasi sekolah dapat mencoba kapasitas 100 persen, tetapi tetap dengan batas waktu maksimal 3,5 jam.

Iklan

“Jika ada kasus baru maka bulan berikutnya dapat melakukan pembelajaran tatap muka secara penuh. Beberapa hal yang harus diperhatikan saat simulasi, yaitu telah tercapainya kekebalan wilayah sekolah atau data vaksin melebibi 80 persen. Berikutnya tetap harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan diawasi dengan baik,” saran Mansur.

Sementara itu, tererkait perlu atau tidaknya menunggu adanya SKB 4 Menteri untuk PTM, menurut Mansur sebenarnya tidak perlu harus ditunggu. Karena pada SKB yang lama pun sudah ada ketentuan bahwa kewenangan membuka sekolah berada di pemerintah daerah.

“Saat ini sebenarnya beberapa SMA/SMK telah melaksanakan simulasi PTM Penuh dan ternyata tidak terjadi kasus baru, ini bisa menjadi pertimbangan bahwa meski simulasi PTM Penuh sudah berjalan dua minggu, namun tidak terjadi kasus baru. Itu artinya penerapan protokol kesehatan yang ketat mampu mencegah penyebaran Covid-19,” ujarnya.

Mansur menekankan, hal lain yang perlu diperhatikan yaitu jika PTM Penuh diberlakukan maka diharapkan guru-guru tidak serta merta membebani siswa dengan materi pembelajaran yang padat. “Tetapi harus berangsur-angsur untuk menjaga motivasi dan psikologis siswa,” sarannya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, Dr. H. Aidy Furqan, M.Pd., mengatakan, di masa pandemi ini, SMA, SMK, dan SLB di NTB hanya tiga bulan awal pandemi melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Sisanya sekolah menggelar pembelajaran tatap muka terbatas.

“Sejauh ini tidak ada masalah. Kebijakan ini diapresiasi Mendikbudristek dan polanya diadopsi oleh Kemendikbudristek. Ke depan kami akan membahas bersama semua pihak dan pemerintah daerah di kabupaten/kota untuk menggelar PTM penuh,” ujarnya. (ron)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional