Simulasi Penguatan, Penerapan Protokol Kesehatan Harus Konsisten

Siswa SMAN 7 Mataram berbaris untuk cuci tangan sebagai bagian dari penerapan protokol kesehatan cegah Covid-19 selama simulasi penguatan. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Simulasi penguatan tahap kedua pembelajaran secara tatap muka pada pekan ini diikuti SMA, SMK, dan SLB di zona oranye penyebaran Covid-19. Pihak sekolah berupaya agar protokol kesehatan bisa dilaksanakan secara konsisten.

Kepala SMAN 7 Mataram, Munawar pada Selasa, 3 November 2020 mengatakan, pihaknya terus berupaya agar penerapan protokol kesehatan bisa berjalan konsisten. Sejauh ini simulasi di SMAN 7 Mataram berjalan lancar karena dalam pengawasan melibatkan siswa secara langsung, baik dari pramuka, remaja musala, OSIS. “Semuanya ikut membantu dalam pelaksanaan,” katanya.

Iklan

Terpisah, Kepala SMKN 3 Mataram, Ruju Rahmad, S.Pd., M.T., menyampaikan, untuk simulasi penguatan ini pihaknya melibatkan siswa yang tergabung di ekstrakurikuler seperti PKS, PMR, Pramuka, dan Paskib untuk membentuk tim Satgas Covid-19 dalam penegakan protokol kesehatan. Di samping itu, pihaknya fokus pada mata pelajaran kejuruan untuk mengejar ketertinggalan dalam praktik kompetensi keahlian di masing-masing program keahlian.

“Kami juga arahkan untuk pembinaan soft skill dalam penerapan budaya kerja di Industri, Dunia Usaha, dan Dunia Kerja (IDUKA),” kata Ruju.

Selain itu, Ruju menyampaikan, pihaknya juga melibatkan alumni dengan program Alumni Kembali ke Sekolah. Alumni memberikan motivasi dan inspirasi ke adik-adiknya tentang penerapan budaya kerja dan etos kerja. Salah satunya Dr. Zulkarnaen, S.Pd., M.Eng., dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus-Pendidikan Layanan Khusus (PK-PLK) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, Hj. Eva Sofia Sari, S.Pd., M.Pd., dihubungi Selasa, 3 November 2020 menyampaikan, tujuan dari penguatan simulasi saat ini mengacu kepada permintaan siswa dan orang tua untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka di sekolah.

Eva menegaskan, proses kegiatan ini harus selalu mengacu pada standar Covid-19 yang sudah ditetapkan. Antara lain, cuci tangan, pakai masker, dan pengukuran suhu tubuh harus tetap dilaksanakan. “Monitoring tetap dilaksanakan di semua sekolah, di mana sekolah sudah membentuk satgas Covid-19 di sekolah masing-masing . Monitoring dari KCD dan masing-masing bidang di Dikbud juga tetap dilaksanakan,” ujarnya.

Nantinya, kata Eva, apabila sdudah ada petunjuk dari satgas penanganan Covid-19 provinsi dan Dinas Kesehatan melalui pemerinta daerah telah memberi izin membuka sekolah secara resmi, maka sekolah-sekolah tersebut sudah siap melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar seperti biasa.

Sebelumnya simulasi penguatan tahap pertama minggu pertama dan kedua serta pembukaan layanan pembelajaran tatap muka terbatas di sekolah berada di zona kuning dilaksanakan pada Senin, 12 Oktober 2020 sampai dengan Sabtu, 24 Oktober 2020. Simulasi penguatan tahap kedua untuk sekolah di zona oranye juga berlanjut mulai Senin, 26 Oktober 2020 sampai dengan Sabtu, 7 November 2020. (ron)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional