Simulasi Pembelajaran, Sekolah Wajib Berikan Data Sebenarnya

Suasana simulasi pembelajaran tatap muka di SMKN 5 Mataram, Kamis, 17 September 2020.  (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) –  Simulasi pembelajaran tatap muka di SMAN, SMKN, dan SLBN di NTB yang hanya dilaksanakan selama seminggu untuk setiap sekolah dinilai sulit menunjukkan keadaan sebenarnya. Oleh karena itu pihak sekolah atau pengawas wajib memberikan data sebenarnya agar saat evaluasi bisa menghasilkan keputusan yang tepat.

Hal itu disampaikan Mansur Sipinathe dari Serikat Guru Mataram yang juga Litbang Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Ia mengatakan, FSGI menilai bahwa data minim yang diperoleh dari simulasi tatap muka yang hanya satu minggu ini sangat sulit untuk menunjukkan keadaan sebenarnya. “Untuk itu sekolah atau pengawas wajib memberikan data yang sebenarnya agar evaluasi yang  dilakukan pihak dinas dapat menghasilkan keputusan yang tepat,” sarannya saat dihubungi Kamis, 17 September 2020.

Iklan

Selain itu, Mansur menegaskan, untuk menjamin bahwa tatap muka nantinya bisa dilanjutkan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB masih perlu mengadakan verifikasi factual. Terutama berkaitan dengan ketersediaan fasilitas dan kesiapan prosedur standar pencegahan Covid-19. “Hal ini dilaukan untuk memastikan laporan hasil simulasi sesuai dengan kondisi sebenarnya,” sarannya.

Dari jadwal yang dikeluarkan oleh Dinas Dikbud NTB, simulasi pembelajaran tatap muka dilaksanakan selama tiga minggu. Dimulai pada Senin, 14 September 2020 dan berakhir pada Sabtu, 3 Oktober 2020 mendatang. Sekolah di setiap kabupaten/kota dibagi untuk melaksanakan simulasi dalam waktu satu minggu secara bergiliran.

Terpisah, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) NTB, Ermawanti pada Kamis, 17 September 2020 mengatakan, protokol kesehatan harus tetap dilaksanakan agar semua peserta didik aman, termasuk dengan guru-guru. Menurutnya, simulasi pembelajaran tatap muka ini bisa dijadikan contoh oleh Kemendikbud untuk diterpakan di provinsi atau kabupaten dan kota yang sudah masuk zona kuning.

“Sistem sif atau blok bagus karena membatasi jumlah peserta didik berkumpul secara masif. Pembelajaran tatap muka bisa perlahan dijalankan dan guru-guru harus siap dengan normal baru untuk pembelajaran di tengah pandemi Covid-19,” katanya.

Ermawanti juga menyampaikan, kurikulum darurat yang telath ada bisa diaplikasikan oleh para guru. Tentu dengan mengkombinasikan dengan kurikulum yang dibuat di lingkungan sekolah masing-masing.

Sementara itu pelaksanaan simulasi pembelajaran tatap muka telah dilaksanakan sampai dengan Kamis, 17 September 2020. Kepala SMKN 5 Mataram, H. Istiqlal, S.Pd., MM., mengatakan pelaksanaan simulasi pembelajaran tatap muka di SMKN 5 Mataram berjalan dengan lancar. Pihaknya telah menerapkan protokol kesehatan cegah penularan Covid-19. Satu kelas hanya diisi 18 siswa. “Siswa masuk dari pukul 7.30 Wita sampai dengan 11.30 Wita, tanpa jeda langsung pulang,” ujarnya. (ron)