Sikapi Siswa Korban Konvoi, Bupati KLU akan Kumpulkan Seluruh Kepala Sekolah

Tanjung (Suara NTB) – Meninggalnya salah satu pelajar siswa SMPN 1 Gangga , Soni Rosandia (15) yang ikut dalam konvoi siswa SMAN 1 Gangga, Kamis, 3 Mei  lalu menjadi perhatian serius Bupati Lombok Utara, Dr. H. Najmul Akhyar, SH. MH. Ia memerintahkan, Dinas Dikpora Lombok Utara untuk mengumpulkan seluruh kepala sekolah se Lombok Utara guna diberikan wejangan terkait antisipasi konvoi-konvoi susulan.

Bupati sebagaimana diketahui, menyempatkan diri takziah ke rumah duka di Dusun Lekok, Desa Gondang, Kecamatan Gangga. Bupati bersama sejumlah pejabat, mendatangi rumah duka memberikan belasungkawa setelah turun dari Salat Subuh berjamaah di Masjid Darul Istiqomah Dusun Lekok, Jumat, 4 Mei 2018.

Iklan

Selaku keluarga korban, Jaharudin, S.Sos., menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian sejumlah pihak, dari Bupati KLU, pejabat Dinas Dikpora, hingga keluarga besar SMPN 1 Gangga yang datang ke keluarga korban. Pihaknya berharap, agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa yang akan datang.

“Saran saya agar Pemda memperhatikan persoalan konvoi ini, tidak cukup sebatas imbauan. Mungkin ada koordinasi antara Pemda KLU, Dinas, Sekolah, Komite Sekolah termasuk orang tua, apa langkah-langkah yang harus diambil mengantisipasi konvoi,” harap Jaharudin.

Selaku paman korban, Jaharudin juga menyaksikan betapa perilaku siswa sekolah sekarang ini terkesan melewati batas etika dan kesopanan.

“Saya tidak berbicara pada konteks agama, tetapi maaf, sampai pakaian dicorat – coret, ada siswa yang sampai merobek rok dan terkesan sengaja dipertontonkan di jalan raya. Ini kita pandang perlu adanya ketegasan dari pemangku kebijakan, termasuk kepolisian,” sambungnya.

Terpisah, Najmul Akhyar, menyayangkan aksi konvoi menimbulkan insiden korban jiwa pada siswa sekolah. Ia mengingatkan peristiwa ini harus diambil sebagai pelajaran untuk disikapi secara bersama-sama. Pasalnya korban bukan anak SMA yang telah memperoleh kepastian kelulusan.

“Menurut saya, yang paling utama adalah pengawasan dari orang tua masing-masing, karena sekolah juga punya keterbatasan, atau sekolah tidak melihat sistem. Saya pelaku pendidikan, tetapi di Ponpes mereka tidak seperti itu,” jelasnya.

Najmul membandingkan, pola yang ia bangun di Ponpes miliknya dengan sistem yang ada di sekolah umum. Di Ponpes ia mengajak seluruh siswa pondok menggelar tasyakuran dan melakukan hal-hal positif.

Selama dua tahun belakangan, menurut dia, nyaris tidak ada korban jiwa. Perayaan di tingkat SMA/SMK juga dilaksanakan dengan membuat kegiatan di sekolah masing-masing. Hanya saja, saat ini kewenangan mengatur dan mengawasi SMA/SMK berada di ranah provinsi, sehingga Najmul enggan menyalahkan Pemprov NTB.

“Tahun kemarin itu (kelulusan SMA), kita lombakan sampai kepala sekolah dapat laptop. Kita lombakan siapa sekolah yang punya sistem kelulusan terbaik, sampai mengadakan doa bersama menggunakan pakaian adat,” jelasnya.

Ia berharap, ke depan, pola-pola kearifan menyambut kelulusan digelar oleh sekolah. Tidak terbatas pada adanya instruksi atau tidak, melainkan melalui insiatif dari sekolah-sekolah.

“Sekarang ini kan tidak, sehingga rasanya tahun kemarin tidak terlalu marak karena sekolah punya kegiatan, apalagi sekarang bukan kita yang atur. Saya tidak tahu ya, apakah itu berpengaruh atau tidak,” imbuhnya.

Kendati demikian, Najmul mengaku telah meminta kepada Dinas Dikpora untuk antisipasi kemungkinan adanya konvoi susulan dari kalangan siswa. “Saya sudah minta kadis dikpora untuk kumpulkan semua kepala sekolah se-Lombok Utara (untuk diberikan wejangan),” demikian Najmul. (ari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here