Sidang Perkara Benih Jagung 2017, PT WBS Suplai PT SAM Benih Tidak Sesuai Spesifikasi

Mantan Kepala BPSB Provinsi NTB Mawardi memberi kesaksian dalam sidang pengadaan benih jagung tahun 2017 dengan terdakwa Direktur PT WBS Lalu Ikhwanul Hubby Selasa, 5 Oktober 2021 di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB)  – Sengkarut benih rusak pengadaan benih jagung tahun 2017 berulang. Benih pengadaan PT Sinta Agro Mandiri (SAM) yang bermasalah diganti dengan benih lain. Celakanya, benih pengganti ini tidak sesuai spesifikasi seperti disyaratkan dalam kontrak.

Jaksa penuntut umum menghadirkan saksi mantan Kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Provinsi NTB H Mawardi dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram, Selasa, 5 Oktober 2021.

Iklan

“Ada laporan petani di Pulau Sumbawa benihnya rusak. Itu benihnya PT SAM. Penggantinya 150 ton yang diambil dari PT WBS,” kata Mawardi dalam sidang yang dipimpin ketua majelis hakim Catur Bayu Sulistyo ini.

PT SAM milik Aryanto Prametu mendapatkan kontrak pengadaan Rp17,25 miliar melalui penunjukkan langsung mantan Kadistanbun Provinsi NTB Husnul Fauzi. Anggaran itu untuk pengadaan 487,85 ton benih jagung.

Sebanyak 327,5 ton yang didistribusikan kelompok tani kondisinya rusak dan berjamur. Ada yang sudah terlanjur menanam tapi benih tidak tumbuh sebagaimana mestinya.

Petani lalu mengembalikan benih rusak ini sebanyak 194,1 ton. Sementara sebanyak 45,6 ton lainnya tidak dikembalikan karena terlanjur ditanam. Benih pengganti sebanyak 144,2 ton disalurkan kembali ke petani.

Karena masih ada kekurangan, maka Husnul Fauzi memerintahkan Aryanto untuk membeli kepada PT Wahana Banu Sejahtera (WBS) milik terdakwa Lalu Ikhwanul Hubby. Aryanto kemudian menuruti Husnul dengan membeli 217,1 ton benih kepada Ikhwan.

PT SAM mendapat kontrak untuk pengadaan benih varietas Bima 14, Bima 15, Bima 19, dan Bima 20. Sementara, benih pengganti yang dibeli dari PT WBS sebanyak 144 ton merupakan varietas Bima 10 yang tidak tercantum dalam kontrak PT SAM.

Mawardi mengatakan, benih jagung yang disalurkan PT WBS tidak melalui pemeriksaan. Sebab menurutnya, PT WBS tidak melapor pada saat mengedaran benih ke petani penerima bantunan.

“Tidak ada laporan. Tidak ada ketentuan PPK dan KPA melapor. Tapi yang wajib melapor itu distributor yang memasukkan benih,” ucapnya.

Laporan benih rusak itu, sambung Mawardi, kemudian diteruskan ke BPSB Jawa Timur. Hasilnya, sertifikat benih ini tidak terdaftar. “dari Jatim bersurat. Isinya, benih yang beredar di Sumbawa itu tidak ada register lotnya,” ucapnya.

Indikasi palsu ini juga muncul dari ciri fisik sertifikat. Menurut Mawardi benih produksi Jawa Timur melalui sertifikasi berupa label dengan ciri khusus. “Itu terbacanya kalau label itu disorot sinar UV, maka akan muncul tandanya,” sebut dia.

Permasalahan benih itu pun mencuat dengan dugaan benih palsu. Indikasinya, benih tidak memiliki sertifikat terdaftar, serta fisiknya sudah berjamur karena tidak memenuhi standar kadar air. Kemudian, tidak tumbuh sempurna karena persentase daya sebarnya kurang dari spesifikasi.

PT SAM milik terdakwa Aryanto Prametu mendapatkan kontrak Rp17,25 miliar untuk pengadaan 487,85 ton benih jagung. Dalam pelaksanaannya hanya 10 ton yang jelas varietasnya. Dari proyek yang dikerjakan PT SAM ini, BPKP Perwakilan NTB menghitung kerugian negara sebesar Rp15,43 miliar.

Sementara PT WBS mendapat kontrak senilai Rp31,76 miliar untuk pengadaan 849,9 ton benih jagung. Realisasinya, benih yang didatangkan PT WBS tidak seluruhnya memenuhi syarat spesifikasi dan sertifikat, serta sudah kedaluarsa. Berdasarkan hasil audit BPKP Perwakilan NTB, kerugian negara yang timbul mencapai Rp11,92 miliar. (why)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional