Sidang Perdana Dugaan Penistaan Agama, Siti Aisyah Bersikeras Tak Butuh Penasihat Hukum

Mataram (suarantb.com) – Terdakwa dugaan penistaan agama, Siti Aisyah menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Mataram Kamis, 15 Juni 2017. Dalam sidang itu Aisyah didakwa dengan pasal 156 dan 156a KUHP.

Pada sidang dakwaan itu, Siti Aisyah tidak didampingi penasihat hukum. Sebelum sidang dimulai, ia tampak membaca Alquran sambil sesekali memperhatikan catatannya.

Iklan

Menurut dakwaan, Siti Aisyah tidak mengakui Sunnah Nabi Muhammad SAW. Ia juga menampik adanya hadist Nabi. Selain itu, menurutnya hadist riwayat Bukhari dan Muslim tidak benar.

Dalam ajarannya, Siti Aisyah hanya berpegang kepada Alquran. Sedangkan hadist ditampikannya. Ia juga tidak mengakui adanya gerakan dalam salat. Menurutnya salat cukup dilakukan dengan hati. Untuk menyebarkan pahamnya, Siti Aisyah kemudian membagikan selebaran-selebaran. Selain itu Siti Aisyah juga didakwa mengeluarkan ujaran kebencian.
Atas perbuatan Siti Aisyah, Jaksa Penuntut Umum mendakwanya dengan pasal 156 dan 156a KUHP.

Pasal 156 KUHP menyatakan, “Barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian, atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak Rp 4.500”.

Sedangkan Pasal 156a KUHP mengatakan, “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia”.

Setelah pembacaan dakwaan, Hakim Ketua Didi Jatmiko, SH., MH menanyakan kepada terdakwa mengenai penasihat hukum yang akan mendampinginya. Namun, Siti berkeras tidak membutuhkan penasihat hukum dan mimilih menghadapi persidangan seorang diri. Ia juga tidak keberatan dengan dakwaan JPU.

Ditemui usai persidangan, Siti Aisyah menegaskan dirinya tidak keberatan dengan dakwaan JPU. Menurutnya, semua yang dialami merupakan skenario dari Allah.

“Sudah kita jalani saja. Skenario Allah belum tahu. Waktu yang menentukan. Boleh saja diputuskan berapa tahun saya siap,” ujarnya.

Ia kembali menegaskan tidak membutuhkan penasihat hukum. Ia berdalih mengembalikan semuanya kepada kehendak Allah. Karena menurutnya semua adalah skenario Allah. (bur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here