Sidang Kasus Dana Bencana, Saksi Jelaskan Penyerahan Uang Jatah Loloskan Proyek

Terdakwa H. Muhir mendengarkan keterangan saksi yang diperiksa Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram, Selasa, 30 Oktober 2018. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Jaksa penuntut umum menghadirkan tiga orang saksi dalam lanjutan sidang perkara korupsi fee proyek dana rehabilitasi bencana Disdik Kota Mataram, Selasa, 30 Oktober 2018. Mereka menerangkan rangkaian operasi tangkap tangan yang menemukan adanya serah terima uang tunai yang melibatkan terdakwa, H. Muhir.

Tiga orang saksi itu antara lain pegawai pada Kejari Mataram yang mendapat surat perintah tugas penyelidikan kasus yang dilaporkan pada Agustus 2018 lalu. Yakni, M Gufran, Mahesti, dan Doni Gautama.

Iklan

Gufran mendapat kesempatan diperiksa lebih dulu dalam sidang yang dipimpin ketua majelis hakim, Isnurul Syamsul Arif di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram.

Gufran pada Jumat (14/10) pagi datang lebih dulu ke warung Encim, di Cakranegara Barat, Cakranegara, Mataram. Kemudian datang menyusul politisi Golkar, H. Muhir, mantan Kepala Disdik Kota Mataram, H Sudenom, dan stafnya Tjatur Totok Hadianto.

“Saksi Sudenom bilang, ‘Kasih dah Tok’,” kata Gufran menirukan percakapan yang didengarnya. Dia duduk membelakangi mereka.

Ketika percakapan itu pula dia menoleh ke belakang dan melihat amplop cokelat digeser. Dari saksi Totok kepada H. Muhir. Meyakini ada penyerahan uang, Gufran lantas menghubungi tim lain yang sudah menunggu di luar.

Seketika kemudian saksi Doni Gautama masuk dan menyerukan agar H. Muhir Sudenom dan Totok untuk tetap diam di tempatnya. Lalu menyusul Agus Taufikurrahman.

Muhir diberi kesempatan hakim untuk menguji kesaksian Gufran, yang lantas menjawab. “Ada yang salah pertama Doni tidak ada, tetapi Agus langsung masuk. Kedua yang ada uang langsung saya tolak,” klaim Muhir.

Mahesti juga berada di dalam warung menguatkan kesaksian Gufran. Berbeda dengan Doni yang tidak melihat langsung serah terima uang.

“Waktu saya masuk, saya lihat ada amplop di kantong Totok. Uang sudah dimasukkan lagi ke dalam kantong,” ucap Doni dalam pemeriksaan terpisah. Dia masuk ke warung menanggapi informasi Gufran.

Doni juga dapat bagian menggeledah badan H. Muhir. “Saya geledah kantongnya, ada dompet,” kata dia. Amplop berisi uang disita saksi Agus yang menggeledah Totok di teras depan warung.

Sidang hari itu dicukupkan untuk pemeriksaan tiga saksi tersebut. Kemudian ditunda untuk dilanjutkan lagi Selasa pekan depan. Masih dengan agenda pemeriksaan saksi.

Ketua Komisi IV DPRD Kota Mataram, H menjadi terdakwa perkara fee proyek rehabilitasi pascabencana SD/SMP Kota Mataram 2018 didakwa dengan tiga lapis pasal korupsi. Politisi Golkar itu didakwa memeras Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram sebesar Rp31 juta. Terkait proyek pascabencana gempa Lombok pada APBD-P 2018 sebesar Rp4,29 miliar.

Muhir yang juga anggota Banggar DPRD Kota Mataram diadili dengan dakwaan pasal 12 huruf e dan atau pasal 12 huruf b dan atau pasal 11 UU RI No 20/2001 tentang perubahan atas UU RI No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (why)