Siap-siap! Desa Wisata Tete Batu, Kerujuk dan Sesaot Segera Dibuka

Ilustrasi wisman saat berada di Desa Tete Batu beberapa waktu lalu. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Pariwisata (Dispar) NTB menyusun rencana pembukaan bertahap desa wisata di NTB. Hal tersebut ditujukan sebagai bagian dari persiapan menuju kenormalan baru sektor pariwisata pascapandemi virus Corona (Covid-19).

‘’Yang betul-betul siap dengan protokol Covid-nya kita bertahap akan buka,’’ ujar Kepala Dispar NTB,H. Lalu Moh. Faozal, S.Sos, M.Si, saat dikonfirmasi, Minggu, 5 Juli 2020. Diterangkan, saat ini pihaknya telah menunjuk tiga desa wisata yang akan dijadikan percontohkan.

Iklan

Masing-masing desa wisata tersebut antara lain Desa Tete Batu (Lombok Timur), Desa Kerujuk (Lombok Utara), dan Desa Sesaot (Lombok Barat). Tahap awal pembukaan desa wisata itu dilakukan dengan sosialisasi Standard Operational Procedure (SOP) kenormalan baru pariwisata NTB yang telah duluncurkan beberapa waktu lalu.

‘’SDM-nya, kita coba buka,’’ jelas Faozal. Pembukaan tersebut akan melihat juga kesiapan dari masing-masing pokdarwis yang ada di desa wisata tersebut.

Jika sosialisasi SOP telah selesai, masing-masing desa wisata ditargetkan dapat beroperasi kembali sebelum akhir Juli mendatang. ‘’Ini tinggal kita FGD (diskusi terbatas) bersama pokdarwis, biar semua paham apa-apa yang perlu disiapkan,’’ jelasnya.

Penerapan SOP tersebut memenuhi basis cleanliness, health, and safety (CHS) atau kebersihan, kesehatan, dan keamanan. yang direkomendasikan pemerintah pusat. Untuk aspek kebersihan, destinasi wisata wajib memiliki fasilitas kebersihan yang memadai, adanya toilet bersih, tersedianya tenaga kesehatan yang bekerja rutin, adanya pengelolaan sampah, dan disinfeksi berkala.

Untuk aspek kesehatan yang harus dipenuhi adalah ketersediaan klinik dengan paramedis dan TIC, tersedianya alat pengukur suhu tubuh, fasilitas cuci tangan, wajib masker, dan valid health certificate (VHC) bagi yang membutuhkan. Sedangkan untuk aspek keamanan yang harus dipenuhi antara lain penerapan pembatasan fisik, kontrol sosial, pemenuhan sertifikasi CHS, tersedianya lampu dan penunjuk jalan, serta penegakan hukum.

Diterangkan, dalam pembukaannya nanti masing-masing desa wisata diproyeksikan untuk menarik wisatawan lokal dalam daerah terlebih dahulu. Hal tersebut dilakukan mengingat untuk menarik wisatawan luar daerah bahkan mancanegara masih cukup sulit di tengah pandemi yang berlangsung.

Di sisi lain, masing-masing pemda kabupaten/kota disebut telah mempersiapkan kenormalan baru secara mandiri mengikuti Surat Edaran (SE) penerapan SOP yang telah dikirimkan Dispar NTB. “SOP itu untuk unit-unit usaha pariwisata dan destinasi pariwisata,” ujar Faozal.

Menurutnya, aspek lain yang harus dipenuhi masing-masing kabupaten/kota dalam pembukaan destinasi wisata juga melingkupi rekomendasi gugus tugas penanganan Covid-19 di masing-masing daerah. Termasuk rekomendasi kebijakan dari gugus tugas di tingkat provinsi.

‘’Dibuka atau tidak dibukanya nanti tergantung gugus tugas di kabupaten/kota yang menentukan,’’ tandas Faozal (bay).