Setwan Proses Berkas PAW, Tiga Kursi Anggota DPRD Bima Lowong

Bima (Suara NTB) – Sekretariat Dewan (Setwan) Kabupaten Bima tengah memproses berkas Pergantian Akhir Waktu (PAW) dua orang anggota dewan yang meninggal dan anggota dewan yang mengalami sakit berat. Untuk mengisi tiga kursi dewan setempat yang masih kosong.

Dua orang anggota DPRD tersebut, yakni almarhum Samran, duta partai Hanura. Samran meninggal dunia pada Bulan Januari 2018. Kemudian Wahidin S.H, fraksi partai Demokrat yang meninggal pada 20 Maret 2018. Sedangkan anggota dewan yang sakit berat yakni Ramli dari fraksi PPP.

Iklan

Sekretaris Dewan DPRD Kabupaten Bima Drs. Ishaka, mengaku hingga saat ini baru pengganti almarhum Samran, yang tengah diproses PAW. Bahkan sudah ada nama yang akan mengantikannya. “Sedangkan almarhum Wahidin, kita masih menunggu rekomendasi dari parpol,” katanya kepada Suara NTB, Senin, 16 April 2018.

Mantan Kepala Bangkesbangpol Kabupaten Bima ini memastikan dua anggota dewan yang meninggal dunia tersebut, akan tetap dilakukan PAW. Hanya saja dilakukan secara bertahap. “Sementara proses PAW Ramli masih menunggu keputusan dari Badan Kehormatan (BK) terkait masalah yang dialami,” katanya.

Karena berdasarkan informasi yang didapat oleh pihaknya, Ramli tidak bisa lagi menjalani aktivitas sebagai anggota DPRD hampir satu tahun berjalan karena mengalami sakit berat. “Hal ini sesuai dengan surat yang diajukan bahwa Ramli mengalami sakit berat. Dan persoalan ini masih diproses BK belum ada kesimpulan,” ujarnya.

Persoalan Ramli juga diakui Ketua BK DPRD Kabupaten Bima, Ismail. Duta PKS ini mengaku sudah menerima laporan dan surat pengajuan yang menerangkan Ramli tidak bisa bekerja lantaran sedang mengalami sakit berat. “Laporannya memang sudah ada dan sekarang sedang kita proses,” katanya.

Ismail mengatakan pihaknya sudah mengagendakan untuk melakukan pemanggilan terhadap Ramli. Bahkan berencana mempertemukan Ramli dengan pelapor dalam waktu dekat. “Laporannya, Ramli sedang sakit. Hal ini kita perlu mengecek kebenarannya. Apakah betul-betul sakit berat atau tidak. Menjawab ini kita membutuhkan keterangan ahli, yakni dokter kesehatan,” pungkasnya. (uki)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here