Setor Rp5 Miliar, Investor Kereta Gantung Rinjani Dinilai Serius

Ilustrasi Kereta Gantung yang akan dibangun di Rinjani dan KEK Mandalika (suarantb.com/ist)

Mataram (Suara NTB) – Setelah mendapatkan persetujuan prinsip dari Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB, investor yang akan membangun kereta gantung Rinjani sedang melakukan sejumlah kajian. Salah satunya kajian mengenai untung dan rugi membangun kereta gantung Rinjani.

‘’Kayak di pertambangan itu masih eksplorasi, untuk mencari data. Mereka sudah koordinasi dengan kita,’’ kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Ir. Madani Mukarom, B. Sc.F, M. Si dikonfirmasi Senin, 3 Februari 2020.

Iklan

Hasil kajian itulah yang akan menjadi pertimbangan investor untuk membangun kereta gantung sepanjang 10 Km di lereng selatan Gunung Rinjani tepatnya di wilayah Batukliang Utara, Lombok Tengah yang masuk wilayah KPH Rinjani Barat. Madani menjelaskan investor yang akan membangun kereta gantung ini cukup serius.

Buktinya, mereka sudah menyerahkan kontribusi untuk daerah sebesar Rp5 miliar. Seharusnya, dana kontribusi tersebut diserahkan setelah kajian-kajian lainnya seperti Amdal sudah beres baru mereka menerahkan kontribusi bagi daerah.

Madani meyakini keberadaan kereta gantung Rinjani akan menjadi magnet untuk menarik kunjungan wisatawan ke NTB. Pasalnya di Indonesia, baru ada di NTB yang akan memiliki kereta gantung dengan panjang sekitar 10 Km.

Saat ini, kata Madani, kereta gantung baru ada di TMII dan Ancol Jakarta. Itupun panjangnya hanya 1 Km. Dengan jumlah kereta gantung sebanyak 100 unit, maka akan mampu mengangkut ribuan wisatawan menikmati keindahan Rinjani.

‘’Saya yakin ini bisa jadi magnet untuk wisatawan berkunjung ke NTB. Karena di Indonesia belum ada. Yang ada di TMII sepanjang 1 Km, kemudian di Ancol berada di pinggir laut. Bisa ribuan orang perhari kalau ada  100 kereta gantung,’’ katanya.

Setelah melakukan kajian untung dan rugi pembangunan kereta gantung tersebut, investor akan melakukan sosialisasi ke masyarakat setempat dulu baru melebar ke kecamatan, kabupaten dan provinsi. Setelah itu baru mereka mengurus izin kesesuaian ruang, DED dan Amdal.

Madani memastikan pembangunan kereta gantung Rinjani tidak akan merusak lingkungan atau hutan. Karena pembangunan dan pengangkutan tiang pancang untuk kereta gantung menggunakan helikopter. Izin yang diberikan kepada investor seluas 500 hektare. Namun, hanya 10 persen atau 50 hektare yang dapat digunakan untuk membangun.

Sisanya mereka bertanggung jawab menjaga kelestarian hutan ang berada di wilayah izinnya. Termasuk, kata Madani, investor akan diwajibkan untuk menanam pohon di kawasan hutan Rinjani yang gundul, bukan saja di sekitar lokasi kereta gantung.

Selain itu, apabila ada kereta gantung maka sampah-sampah yang ada di kawasan puncak Rinjani bisa diangkut ke bawah. Kemudian pada setiap pancang kereta gantung dapat dipasang CCTV untuk memantau aktivitas illegal logging dan perambahan hutan di sekitar Rinjani.

‘’Kita bisa pasang CCTV untuk memantau aktivitas orang yang melakukan illegal logging dan perambahan hutan. Sehingga hutan Rinjani akan terjaga,’’ terangnya. (nas)