Seteru Anak dan Ibu Kandung, Inaq Kalsum Menderita Gangguan Pendengaran Diduga karena Dianiaya

Penasihat Hukum Inaq Kalsum, Lalu Anton Hariawan

Mataram (Suara NTB) – Perseteruan Mahsun dengan ibu kandungnya Inaq Kalsum mengungkap yang selama ini terpendam. Diantaranya terkait warisan yang tidak dibagi sesuai bagiannya. Juga dugaan penganiayaan yang menimpa Inaq Kalsum.
“Inaq Kalsum ini sampai terganggu pendengarannya karena dipukul. Hasil rekam medisnya ada,” ungkap penasihat hukum Inaq Kalsum, Lalu Anton Hariawan dikonfirmasi Senin, 6 Juli 2020.

Dugaan penganiayaan itu, sambung dia, memang belum dilaporkan secara resmi ke kepolisian. Namun menjadi bagian integral dari laporan yang sebelumnya sudah diajukan. Yakni dugaan penggelapan harta warisan.
“Bahwa ada surat perdamaian yang tanda tangannya Inaq Kalsum ini dipalsukan. Perdamaian itu terkait dengan penganiayaan. Kejadiannya pada April 2020 lalu. Sebelum puasa,” terangnya.

Iklan

Terpisah, Direktur Reskrimum Polda NTB Kombes Pol Hari Brata mengungkapkan belum menerima secara utuh laporan Inaq Kalsum seperti yang dimaksud. Baik itu laporan terkait penggelapan warisan maupun penganiayaan.
“Setelah saya cek belum ada masuk. Belum ada disposisi. Tapi kalau memang nanti melapor tentu akan kita tindaklanjuti. Kita lihat dulu seperti apa laporannya,” sebutnya.

Mengenai dugaan penganiayaan, Hari mengatakan penyidik nantinya akan meneliti kebutuhan bukti yang diperlukan untuk pembuktian unsurnya. “Siapa yang melihat (kejadiannya), akibatnya apa misalnya hasil dari rumah sakit,” jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, Inaq Kalsum melaporkan dugaan penggelapan harta warisan  Rp240 juta. Inaq Kalsum disebut tidak mendapatkan bagi warisan yang sesuai dengan bagiannya. Uang hasil penjualan tanah warisan Rp240 juta diduga digelapkan.

Mahsun sebagai terlapor merupakan anak tunggal dari pernikahan Kalsum dengan Mudahan. Mudahan meninggal dunia meninggalkan harta warisan tanah sawah, rumah, dan pekarangan. Kalsum dan Mahsun sebagai ahli waris yang sah kemudian menjual tanah tersebut. Tanah yang luasnya 40 are dijual seharga Rp240 juta.

  Jadi Temuan BPK, Kerugian Negara Pengadaan Cadangan Beras Pemerintah Mengendap

Inaq Kalsum hanya diberikan Rp13 juta. Itu pun dipakai untuk membelikan motor untuk cucunya yang dilaporkan penggelapan tersebut. Kalsum berhak mendapatkan setengah harta suaminya sebagai harta gono-gini. Ditambah lagi sepertiga dari harta bagian suaminya yang meninggal. (why)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here