Setelah Trawangan, Penertiban Sasar Gili Air dan Meno

Tanjung (Suara NTB) – Pemda Kabupaten Lombok Utara (KLU), Selasa, 7 Maret 2017 menggelar rapat evaluasi penertiban yang telah dilakukan di kawasan wisata Gili Air. Pascapenertiban, SKPD terkait diminta mengawasi area yang sudah steril berikut menelurkan program yang telah disusun sebagai tindak lanjut.

Dalam rapat ini, hadir Sekda KLU, Asisten II, Dandim 1606 /Lombok Barat, Polres Lombok Utara, Kejaksaan, lintas SKPD teknis hingga unsur pengusaha Gili Trawangan dan Ketua Kadin Lombok Utara.

Iklan

Mewakili Bupati, Sekda KLU, Drs. H. Suardi, MH, menyampaikan poin-poin instruksi bupati pascapenertiban. Bahwa, area Gili Trawangan tetap dikawal supaya masyarakat dan pengusaha tidak membangun kembali di area space public. Selain itu, penertiban serupa agar secepatnya dilakukan di Gili Meno dan Gili Air, sehingga sempadan pantai 3 Gili bebas dari fisik liar.

Dalam instruksi yang ditandatangani 2 Maret itu, diperintahkan kepada Camat Pemenang agar melakukan pemberitahuan kepada masyarakat terkait pengawasan pascapenertiban. Pasalnya di lapangan, mulai ditemukan adanya indikasi masyarakat yang bangunannya ditertibkan beralih ke pasar seni. Menurut Pemda, situasi ini bisa memancing kondisi baru di kalangan pengusaha.

Sebagai bentuk keseriusan Pemda KLU, SKPD terkait diarahkan untuk segera masuk ke Trawangan dengan terlebih dahulu berkoordinasi ke provinsi supaya programnya tidak tumpang tindih. Demikian halnya dengan instansi penegak hukum lain, seperti TNI, Polri dan Kejaksaan, agar dilibatkan oleh SKPD.

Dandim 1606 Lobar, Letkol Inf. Ardiansyah pada kesempatan tersebut mengatakan, mendukung upaya Pemkab Lombok Utara. Terlebih penertiban yang dilakukan mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Penertiban sempadan pantai, menurutnya, hanya akan berdampak dalam jangka pendek. Tetapi manfaat jangka panjangnya akan lebih dirasakan bagi kemajuan pariwisata KLU.

“Penertiban ini adalah kemenangan untuk masyarakat. Untuk kepentingan sesaat, ibaratnya kita rugi seratus tapi keuntungan ke depan dapat akan 1.000,” filosofi Ardiansyah.

Ditegaskannya, 3 Gili adalah icon pariwisata NTB. Keberadaannyalah yang membuat Lombok berbeda dengan Bali. Dibandingkan Lombok, Bali unggul karena magnet culture (budaya), sebaliknya Lombok lebih unggul dengan magnet nature (alam). Alasan inilah pihaknya mendukung penuh penertiban di lokasi objek wisata lain.

Menyangkut kendaraan bermesin, itu merupakan bentuk perubahan karena memang yang abadi hanya perubahan. Jika ini solusi, mengapa tidak karena wisatawan menuntut kebersihan dan kenyamanan.

Sementara itu, Camat Pemenang, H. Achmad Dharma, SH., mengingatkan kembali batas waktu pembersihan material penertiban hingga tanggal 14 Maret mendatang. Untuk menjaga komitmen, – material harus segera diangkat. Pihaknya siap melaksanakan instruksi, seperti menyiapkan spanduk “larangan” membangun di area steril.

Sementara, Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup, I Ketut Massa, mengamini upaya pembersihan puing bangunan masih terus dilakukan.

Sejak penertiban tanggal 24 Februari hingga hari kemarin, pihaknya sudah mengangkut sampah bangunan sebanyak 87 tongkang dari asumsi 105 tongkang. Tersisa 18 tongkang lagi yang akan diangkut. Demikian pula pengangkutan dari Pelabuhan ke TPA juga masih berlangsung dengan pengangkutan sebanyak 200 dump truck dari asumsi 310 dump truck. (ari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here