Setelah Penertiban, Gili Trawangan Kembali Asri

Mataram (Suara NTB) – Puluhan bangunan yang berdiri menyalahi aturan di kawasan objek pariwisata Gili Trawangan telah diruntuhkan. Suasana Gili Trawangan pasca operasi penertiban bangunan yang menyalahi aturan itu, berputar seperti mundur 20 tahun ke belakang.

Bangunan-bangunan yang berdiri di atas garis sepadan pantai untuk wilayah setempat, dirobohkan. Selain menurunkan nilai keindahan pantai, bangunan-bangunan tersebut juga menyalahi aturan.

Iklan

Kawasan pantai memiliki tapal batas yang memang tidak dilihat secara langsung. Namun, merujuk pada Perpres Nomor 51 tahun 2016 – kawasan pantai didefinisikan sebagai area publik yang boleh diakses oleh siapa saja. Kawasan tersebut, tidak boleh dijadikan tempat pendirian bangunan sekalipun semi permanen. Lebih-lebih untuk tujuan kepentingan berbisnis. Upaya penertiban yang dilakukan membuat Gili Trawangan kembali ke suasana saat sempadan pantainya belum ditumbuhi bangunan.

“Pasca penertiban, suasana di Gili Trawangan terasa sangat asri. Pemandangan luas dan seperti mundur 20 tahun ke belakang,” jelas Kepala Desa Gili Indah, H. Muhammad Taufik, Jumat, 23 Februari 2017.

Ia mengatakan, proses penertiban berlangsung dengan lancar. Para pengusaha yang mendirikan bangunan di area publik, tidak keberatan jika bangunan mereka dibongkar paksa. Usai penertiban, Gili Trawangan tidak lagi berkesan terhimpit bangunan sehingga terasa sesak.

“Jumlah bangunan yang ditertibkan mencapai sekitar 100 atau lebih. Rencana kedepan, kita akan melakukan pelebaran jalan,” tegasnya.

Jalan di Gili Trawangan akan diperluas dan dibagi menjadi tiga lajur. Lajur pertama akan diperuntukkan bagi pejalan kaki, kedua untuk pengguna sepeda dan ketiga sebagai akses sarana transportasi cidomo atau dokar. Kendati demikian, saat ini tengah ada beberapa kendaraan roda empat khususnya mobil bak terbuka yang beroperasi di Gili Trawangan. Kendaraan tersebut menjadi armada pengangkut sampah sehari-hari.

“Meskipun ada mobil roda empat, tidak ada masalah. Toh juga mobil itu hanya beroperasi pada subuh hingga pukul delapan pagi,” terangnya.

Dua unit mobil pengangkut sampah dikerahkan untuk mendukung kerja petugas kebersihan. Hal ini dilakukan pasca pengelolaan sampah oleh kelompok pemuda desa setempat diberhentikan. Awalnya, sampah-sampah di gili trawangan hanya dikumpulkan dan diangkut menggunakan moda transportasi tradisional yakni cidomo atau dokar. (met)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here