Setelah Jakarta PSBB, Penumpang Taksi Stagnan

Amir Muslim dan Antonis Zaremba

Mataram (Suara NTB) – Pengguna jasa angkutan umum transportasi darat, khususnya taksi mengalami stagnan. Terutama setelah Jakarta memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kondisi ini  membuat seluruh usaha akan semakin terdampak. Semuanya karena pandemi Covid-19.  Manajer Pool Lombok Taksi (Blue Bird) Group, Amiruddin, SH mengatakan, pemerintah sudah melakukan banyak cara untuk menggerakkan daya beli masyarakat dan ekonomi. Diantaranya adalah wacana mensubsidi masyarakat berwisata dan menginap di hotel.

Iklan

‘’Untuk transportasi umum belum ada. Kita berharap pemerintah juga memberikan kebijakan,” harapnya.

Kebijakan dimaksud, setidaknya pemerintah daerah bisa menggerakkan pegawai atau ASN untuk mengunakan jasa taksi. Apakah saat berkantor, atau sedang bepergian berwisata. Dengan demikian usaha jasa transportasi adalah bagian dari yang dihidupkan.

Dengan stangannya penumpang, apalagi pemerintah akan mengumumkan secara resmi resesi. Dampak yang dikhawatirkan adalah pemutusan hubungan kerja (PHK). Karena itu, dengan dibijaksanai pegawai dan ASN menggunakan transportasi umum. Perekonomian dapat berputar.

Sebelumnya pengguna jasa taksi rata-rata trennya mengalami kenaikan. Terakhir, khusus di Lombok Taksi, sehari satu taksi melayani sembilan penumpang. Naik dari angka tujuh orang, dan delapan orang.

“Tiba-tiba langsung stag (stagnan). Setelah Jakarta memberlakukan PSBB,” kata Amir.

Selama ini penumpang pengguna jasa taksi dari luar daerah cukup menolong. Apalagi saat aktivitas wisatawan berjalan normal. Harapannya agar situasi ini secepatnya terkendali.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Provinsi NTB, Antonius Zaremba Mustafa Kamal juga mengatakan harus bersiap-siap dengan resesi. Pengusaha angkutan umum diharapkan bisa menyiasati bagaimana perusahaan paling tidak mampu bertahan.

Resesi bisa berdampak ke semua lini, tanpa terkecuali ke jasa transportasi. Sebabnya daya beli masyarakat berkurang karena minimnya pergerakan ekonomi. Organda tak menyampaikan permintaan apapun kepada pemerintah. karena pemerintah sudah melakukan berbagai cara untuk menghidupkan ekonomi melalui kebijakan dan stimulus ekonomi.

“Kita mau minta apa juga ndak bisa. yang terpenting pandai-pandai dan kencangkan ikat pinggang agar mampu bertahan,” demikian Anton.(bul)