Setelah Indonesia Umumkan Corona, Produsen Serbat Jahe Kewalahan Penuhi Permintaan

Abdul Hadi, produsen serbat jahe bersama salah satu wisatawan asal Australia. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Setelah Presiden Joko Widodo pekan ini secara resmi mengumumkan dua WNI terjangkit virus corona, permintaan masker dan pembersih tangan cair, tanpa terkecuali di Provinsi NTB, melonjak. Di berbagai platform media sosial, juga bermunculan pesan berantai cara mengatasi dampak korona secara tradisional.

Ditengah hiruk pikuk para ilmuan di dunia melakukan risert untuk mengendalikan virus corona. Dalam pesan berantai ini, masyarakat diminta tetap mengkonsumsi minuman-minuman tradisional yang didalamnya menggunakan rempah-rempah yang tersedia melimpah di Indonesia. Misalnya, temulawak, bawang putih, jahe, dan lainnya.

Iklan

Dari pesan berantai inilah, salah satu produsen serbat jahe di Langko, Kecamatan Lingsar Lombok Barat ketiban rezeki. Minuman serbat jahe yang telah sekian lama diproduksinya mendapat momentum bisnis. Abadul Hadi adalah produsennya. Sehari setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya penularan virus corona di Indonesia, sontak serbat jahenya mendapat peluang pasar sangat besar. serbat jahe sachetannya ludes tanpa waktu lama.

Abdul Hadi mengatakan, penjualan serbat jahenya terjual laku keras. Terutama yang dititip di retail-retail modern. “Banyak sekali yang habis. Stok saya yang ada di rumah juga tidak ada tersisa,” kata pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) yang tengah berkembang ini. Serbat jahe ini adalah minuman tradisional yang dibuat dari bahan campuran jahe merah dan gula merah. Dikemas dalam bentuk sachet yang tinggal seduh jika diminum.

Abdul Hadi tidak ingin mengklaim manfaatnya, apalagi untuk menangkal virus corona. Namun yang sangat ditekankannya adalah banyaknya manfaat jahe merah dan gula merah untuk kebugaran dan anti body. Dalam sehari biasanya ia hanya memproduksi 15 Kg sampai 20 Kg. Dengan tingginya permintaan ini, produksinya tiga kali lipat, hingga 50 Kg sehari. Karena terbatas mesin produksinya, guna memenuhi permintaan, produksi serbat jahet juga dilakukan secara manual. “Harga dari saya Rp15.000 sampai Rp20.000 per enam sachet,” demikian Abdul Hadi. (bul)