Setelah Gempa dan Bagasi Berbayar, Kini Giliran Pembiayaan KPR Diperketat

Kepala Bank BTN Mataram, Dedi Kurniadi (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Daya beli konsumen semakin melemah, pascapemberlakukan bagasi berbayar oleh maskapai penerbangan. Imbasnyapun dirasakan perbankan penyalur Kredit Kepemilikan Rumah (KPR). Bank BTN memperhatikan pergerakan daya beli masyarakat di NTB. Kelesuannya sangat terasa, sejak terjadinya gempa pada semester terakhir 2018 lalu.

Terpukulnya daya beli masyarakat ini, ditambah lagi bebannya kebijakan yang diambil oleh sebagian maskapai dengan diberlakukannya bagasi berbayar. Kepala Bank BTN Mataram, Dedi Kurniadi mengatakan, menyikapi persoalan daya beli masyarakat ini, bank yang dipimpinnya di daerah inipun turut melakukan penyesuaian. Target kredit untuk pengajuan KPR pun dilakukan lebih hati-hati dan sangat selektif.

Iklan

Tahun 2019 ini, sekitar 5.000 unit rumah yang siap akan dibiayainya. Tahun 2018 lalu, Bank BTN Mataram menargetkan 7.000 unit. Dari target tersebut, hanya 5.800 yang dibiayainya.

“Kenapa turun. Yang pertama karena gempa, ditambah lagi kebijakan bagasi berbayar,” jelas Dedi.

Penjualan rumah subsidi, potensinya tidak lagi mengerucut di TNI dan Polri dan ASN. Bank melirik sektor swasta, wira usaha atau karyawan perusahaan. Permintaan pembelian rumah subsidi, umumnya datang dari karyawan-karyawan perusahaan swasta yang bergerak di sektor pariwisata.

Sementara, sektor pariwisata juga sedang belum pemulihan. Akibat minimnya jumlah pelancong yang datang ke Lombok dan Sumbawa akhir-akhir ini. Diperkuat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, jumlah tamu yang menginap di hotel berbintang pada Desember 2017 dibandingkan Desember 2018 mengalami pertumbuhan -10,19 persen.  Demikian juga tamu menginap di hotel non berbintang pada perbandingan yang sama juga minus 26,96 persen. Atau secara total, jumlah tamu yang menginap di hotel selama tahun 2018 sebanyak 1.796.518 orang.

“Banyak karyawan yang berhenti sementara. Terutama mereka yang bekerja di kawasan Senggigi. Akibatnya, kemampuan setornya juga kurang,” kata Dedi.

Karena itulah, bank saat ini sangat memperhatikan agar Non Performing Loan (NPL) atau tingkat kredit macetnya tak membengkak. Pengajuan KPR akan diverifikasi lebih ketat. Selain itu, Bank BTN juga akan selektif membiayai para pengembang. Prioritasnya adalah pengembang-pengembang yang telah memiliki nama besar, kemudian lokasi pembangunannya juga strategis untuk memudahkan minat pasar. Bagi pengajuan dari pihak swasta atau mereka yang tidak memiliki penghasilan tetap, bank akan memverifikasi melalui aktivitas menabungnya. Paling tidak, tabungan yang dilihat tiga bulan terakhir.

“Dari sana kita bisa mengetahui kemampuan bayarnya, untuk kita pertimbangkan disetujui usulan KPRnya,” demikian Dedi.

Bank terus menunggu perkembangan pemulihan ekonomi masyarakat NTB. Sembari menunggu keputusan penetapan harga baru rumah subsidi. Rencananya pemerintah akan menaikkannya. Saat ini masih berlaku harga lama, Rp148.500.000. Saat ini jumlah pengajuan kredit rumah subsidi yang telah diverifikasi sebanyak 500 unit di Bulan Januari 2019. (bul)