Sertifikasi Pangan dan Sayuran, Upaya Lindungi Konsumen dari Bahan Kimia Berlebih

Dompu (Suara NTB) – Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTB bekerjasama Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Dompu menggelar pelatihan sertifikasi pangan dan sayuran bagi kelompok tani binaan di Dompu. Pelatihan ini untuk menghindari penggunaan bahan kimia berlebihan. Sehingga, bisa melindungi konsumen. Sayuran yang dibeli dari pasar pun langsung dibeli untuk diuji dan hasilnya negatif.

 

Iklan
Uji laboratorium sederhana untuk mengecek zat kimia yang terkandung pada sayur – sayuran di pasar Dompu.

Kepala Bidang Konsumsi Pangan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Dompu, M. Fagih, S.Pt kepada Suara NTB, Rabu, 2 Agustus 2017, mengungkapkan, pelatihan sertifikasi pangan dan sayur segar dilakukan pihaknya di aula Dinas Ketahanan Pangan dengan menghadirkan 30 orang peserta perwakilan kelompok binaan. Pelatihan ini dilakukan karena di Dompu banyak yang tanam sayur.

“Makanya pelatihan ini dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada petani dalam menggunakan pestisida yang tidak berlebihan,” katanya.

Diakui M. Fagih, penggunaan pupuk dan sestisida menjadi hal yang tidak mungkin dihindari dalam budidaya sayur – sayuran seperti pada tanaman bawang, kacang panjang dan kol. Namun pelatihan ini dilakukan agar para petani tidak berlebihan dalam penggunaan pestisida, sehingga aman untuk dikonsumsi. “Kalau menyemprot tidak banyak menggunakan obat dan penggunaan pupuk berlebihan,” terangnya.

Tim sertifikasi dari provinsi setelah pelatihan dilakukan, kata M. Fagih, akan membuatkan sertifikasi bagi tanaman sayur – sayuran bagi petani Dompu dan produknya akan diuji laboratorium lebih dulu. “Ketika sudah ada sertifikatnya, produk sayur – sayuran bisa dipasok untuk pasar swalayan dan aman untuk dikonsumsi,” katanya.

Usai pelatihan ini, lanjut Fagih, langsung dilakukan uji laboratorium terhadap sayur yang dibeli di pasaran. Hasilnya negatif dan tidak ditemukan kandungan zat kimia berlebihan. “Alhamdulillah hasil tes terhadap beberapa sayur yang kita beli di pasar, tidak ada yang mengandung zat kimia. Semuanya aman untuk dikonsumsi,” katanya.

Fagih mengatakan, menjadi program pihaknya untuk membina kelompok tani dalam memanfaatkan pekarangan halaman dengan pangan lestari. Isinya bisa berupa sayur – sayuran, umbi – umbian, maupun ikan air tawar. Harapannya, ibu – ibu tidak lagi membeli kebutuhan sayuran bagi kebutuhan rumah tangganya. Bahkan bisa dijual dan penghasilannya bisa menambah uang belanja.

Saat ini lanjut M. Fagih, pada program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) tengah dibagikan bantuak untuk 15 kelompok wanita tani (KWT). Bantuannya berupa kebutuhan kebun bibit seperti patanet, cangkul, sekop, ember besar dan kecil, gembor dan tempat pembibitan. Untuk bibitnya berupa bibit cabe, terong ungu kecil, terong ungu panjang, tomat, bayam, seledri, sawi dan bibit tomat. “Bantuan ini untuk pertama kalinya dari APBD Dompu. Kita bagikan untuk 15 kelompok wanita tani,” katanya.

Kelompok – kelompok penerima bantuan ini tersebar di Kelurahan Montabaru, Kandai 2, Simpasai, Bada, Potu, Desa Kareke, Sorisakolo, Serakapi, dan Desa Matua.  “Kita berharap tahun 2018 mendatang akan lebih banyak lagi kelompok yang kita bantuan. Program kawasan rumah pangan lestari ini untuk peningkatan gizi dan keamanan pangan,” terangnya. (ula/*)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional