Serapan Beras NTB Masuk Lima Besar Nasional

Rice To Rice di Lombok Timur yang mampu memproduksi beras dengan berbagai kualitas yang dibutuhkan. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Tingkat serapan beras dan gabah petani di NTB oleh Perum Bulog masuk lima besar nasional. Berdasarkan realisasi pencapaian rencana pengadaan setara beras di NTB Tahun 2021 ini, Perum Bulog NTB berada di urutan kelima nasional, setelah Sulselbar, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Pemimpin Wilayah Perum Bulog NTB, Abdul Muis mengatakan, per Agustus 2021, Bulog NTB sudah menyerap 146.604 setara Gabah Kering Giling (GKG). Jika disetarakan dengan beras, pencapaian serapan sudah sebesar 93.094 ton. “Ini pencapaian serapan terbesar sepanjang sejarah. Tahun lalu saja kita hanya mampu menyerap 70.000 ton beras,” katanya kepada Suara NTB, Selasa, 31 Agustus 2021.

Iklan

Seperti diketahui, Anggota Komisi IV DPR RI, Johan Rosihan, Fraksi (PKS) Dapil NTB I Pulau Sumbawa, menyoroti rendahnya realisasi pengadaan gabah oleh Bulog dimana persentase serapan selalu menurun setiap tahun, menurutnya sejak 2017 hingga sekarang kurva penyerapan Bulog menunjukkan tren penurunan padahal mestinya Bulog mampu optimalkan penyerapan terutama pada bulan Maret sampai Juni yang selama ini persentase serapannya hanya berkisar 50-65% terhadap total serapan per tahun.

Hal ini diungkapkan Johan saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Ketua Bulog dan jajarannya dalam rangka evaluasi dan monitoring kinerja Bulog, rapat berlangsung di Gedung Parlemen Senayan Jakarta, 30 Agustus 2021. Anggota Komisi IV DPR RI, Johan Rosihan dari Fraksi PKS Wakil rakyat dari Dapil NTB 1 ini mendorong Bulog sebagai operator pangan bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap gabah petani.

Menurut dia, rendahnya kemampuan Bulog akan menyebabkan harga gabah di tingkat petani menjadi rendah bahkan jauh di bawah HPP. Johan mengungkapkan harga jual gabah di tingkat petani di Pulau Sumbawa ada di kisaran Rp3.600 sampai Rp3.800/Kg. Muis menambahkan, seharusnya dilihat data serapan jika yang digunakan acuan adalah kondisi di Pulau Sumbawa.

Tingginya serapan Bulog NTB tahun 2021 ini didukung tingginya produksi petani. Muis juga menambahkan, untuk memasimalkan serapan ini, sub divre masing-masing wilayah di NTB diminta untuk terus melakukan serapan beras dan gabah petani. Hingga panen benar-benar usai. Harapannya serapan dapat dilakukan semaksimal mungkin.

Serapan beras dari petani ini bahkan telah menggunung di gudang-gudang penyimpanan Bulog. Disisi lain, penjualan tergolong masih rendah. Permintaan beras dari daerah-daerah lain cenderung tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. “Karena di daerah lain juga sedang panen,” ujarnya. Untuk mengurangi tumpukan stok Bulog ini, Muis mengharapkan pemerintah daerah melakukan pembelian untuk kebutuhan ASN. Kualitas apapun yang diminta, Muis mengatakan Bulog siap memenuhinya.

Apalagi di NTB sudah beroperasi Rice To Rice atau pabrik penggilingan beras termodern dan tercanggih milik Bulog. Ditempatnya di Gudang Bulog Sikur, Kabupaten Lombok Timur. “Mau cari beras yang kualitas yang bagaimana, kami siapkan. Sudah beroperasi mesin kita yang tidak dimiliki perusahaan swasta manapun di NTB ini,” imbuhnya. (bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional