Serahkan Diri, Bendahara PT. Tripat Lobar Langsung Ditahan

Tersangka Abd di mobil tahanan untuk dibawa ke Rutan Mataram. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Abd (38), saksi paling dicari penyidik Kejati NTB karena diduga  sempat menghilang, akhirnya  menyerahkan diri Jumat, 7 Februari 2020. Bendahara Umum PT. Tripat Lombok Barat (Lobar) ini menyerahkan diri karena merasa tidak nyaman dikejar penyidik. Setelah sempat diperiksa, status saksi menjadi tersangka dan langsung ditahan.

Abd datang menyerahkan diri Jumat siang sekitar pukul 14.00 Wita dan langsung digiring ke lantai tiga Gedung Kejati NTB. Kehadiran saksi langsung disambut lega penyidik, karena berbulan bulan yang bersangkutan dicari namun tak kunjung muncul. Bahkan tiga kali panggilan sebagai saksi, tak diindahkan dan sempat dilakukan upaya jemput paksa namun gagal.

Iklan

‘’Saksi ini rupanya tidak nyaman. Apalagi ada pemberitaan soal jaksa yang terus mencari dia. Sehingga dia risih, kemudian menyerahkan diri,’’ kata juru bicara Kejati NTB, Dedi Irawan,SH.MH,  Jumat sore kemarin.

Abd diperiksa sekitar empat jam oleh penyidik Hasan Basri, SH. Setelah  diberi kesempatan menghubungi pihak keluarganya, akhirnya Abd diminta menandatangani berita acara penahanan sebagai tersangka. Usai diperiksa, tersangka digiring menuju lantai dasar. Abd bungkam saat ditanya aktivitasnya selama pelarian dari panggilan sebagai  saksi.   Dari Kejati NTB, Abd langsung dibawa ke Rutan Mataram.

Tersangka ditahan dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi pada penyertaan modal PT. Tripat, dengan kerugian negara mencapai Rp900 juta lebih. Di dalam penyertaan modal itu, anggarannya untuk pengelolaan Mall Lombok City Center (LCC) dan pembangunan Gedung Dinas Pertanian Lombok Barat, sebagai kompensasi atas pembangunan LCC tersebut.

Bendahara umum PT. Tripat ini menyusul mantan atasannya,  AS sebagai tersangka dan dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 Undang Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang tindak  pidana korupsi sebagaimana diubah dengan Undang Undang 20 tahun 2001.

Dedi Irawan menambahkan, penyidik tidak ingin berlama- lama dalam memproses tersangka. Sikap tidak kooperatif selama penyelidikan, membuat penyidik mengambil keputusan untuk meningkatkan statusnya sebagai tersangka dan langsung ditahan. ‘’Selama ini tersangka kan tidak  kooperatif. Sehingga diambil keputusan ditahan,’’ tandasnya. (ars)