Septia Erianty Beberkan Potensi dan Peluang di NTB

Septia Erianty.(Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Septia Erianty, motivator, entrepreneur muda NTB, sekaligus youtuber berbicara tentang potensi dan terbukanya peluang bagi siapapun di provinsi ini. Baik dalam konteks bagaimana eksis di tengah pandemi, bahkan konteks yang jauh lebih besar merebut peluang dan memanfaatkan momentum.

Septi Erianty adalah perempuan kreatif. Banyak ide menjadi wirausaha yang eksis. Ia peka pada momentum. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada tahun 2020 ini memberikan penghargaan kepada salah satu produk yang dibuatnya, Spirusea/Organic Lombok Indonesia masuk tiga besar produk Indonesia.  Bahan baku skincare ini 80 persen lokal.

Septi, panggilan akrabnya, wajahnya bisa dibilang tak asing. Founder & Owner Organic Lombok Indonesia ini kerap kali menjadi motivator. Terutama kepada para wirausaha perempuan. Ia kerap kali meluangkan waktu untuk berbagi ilmu, saling memotivasi. Septi geregetan, berbicara tentang peluang usaha dengan bahan baku yang sangat melimpah di daerah ini. Tinggal bagaimana agar terdorong kemauan untuk mengolahnya menjadi aneka produk yang laris di pasaran.

NTB kaya gula aren, kelapa, minyak kelapa, rumput laut, kakao, kopi, bahkan garam yang kualitasnya boleh disanding dengan garam manapun.Pemerintah daerah juga kencang, memotivasi, memberikan pelatihan. Agar peluang ekonomi tak ditangkap orang luar. “Sayang, selama ini bahan baku kita banyak dimanfaatkan oleh orang luar. Kebanyakan dikirim keluar daerah untuk di olah lagi, dan dijual lagi bahkan ke kita sendiri yang menghasilkannya,” katanya pada Suara NTB, Kamis, 19 November 2020.

Di masa pandemi ini kuliner tetap eksis di tengah usaha-usaha lain sedang macet. Kuliner adalah kebutuhan utama manusia. Tentu selain obat-obatan dan alat pengaman diri dari virus corona. Dengan bahan baku yang melimpah, siapapun bisa melakukan diferensiasi. Membuat produk makanan dan minuman yang berbeda dari yang lainnya. Tinggal kreatifitas masing-masing. Fasilitas belajarnya banyak, salah satunya melalui internet atau ide-ide sendiri.

Berbicara membuat produk makanan tidak hanya sebatas makanan yang dimasak, lalu habis begitu saja. Harus ada inovasi, ide bagaimana membuat makanan yang tahan lama dan bisa dijadikan oleh-oleh, bahkan peluang ekspor. “Yang terjadi, mindset masyarakat itu adalah hanya pasar lokal. Siapa juga yang mau beli, toh juga mereka bisa buat sendiri. Padahal, jika dikemas, ada pasar yang lebih besar bisa ditangkap. Pasar luar. Menjangkaunya bisa memanfaatkan media sosial dan internet,” ujarnya.

Memanfaatkan bahan baku yang melimpah ini, pada dasarnya tinggal bagaimana memainkan kreatifitas. Garam misalnya, manfaatnya tidak sesederhana hanya untuk bumbu makanan. Namun garam bisa dijadikan jualan garam mandi, lotion, shampo, krim muka dan aneka produk dari industr kecantikan. Kopi juga punya peluang. Bahan baku di NTB sangat melimpah. Bahkan diekspor. Kopi ini bisa dijadikan branding. Kopi lokal bisa dikemas menjadi gaya hidup.

Lalu kebutuhan yang terkait APD, saat ini masih sangat dibutuhkan alat pengaman diri. Misalnya masker, atau handsanitizer. “Buat masker yang lucu-lucu dan kualitasnya siapapun orang PD menggunakannya. Pasarnya masih bagus,” ujarnya. Lalu yang lainnya, dunia masih diselimuti pandemi corona. Kegiatan luar rumah masih dibatasi. Biro perjalanan wisata yang biasanya konvensional melayani tamu, atau siapapun bisa memanfaatkan momentum.

Bagaimana mengajak orang lain berwisata secara virtual yang bisa dinikmati oleh siapapun dari rumahnya. Melalui gadgetnya. “Manfaatkan kejenuhan orang ini dengan mebuat bisnis wisata virtual. Peluangnya juga masih besar ini,” imbuhnya.

Ide –ide besar yang dikemukakan Septi ini harapannya agar semua orang tergerak menangkap peluang dan tidak berhenti karena pandemi. Apalagi Lombok, NTB sedang mendapatkan momentum akan menjadi tuan rumah MotoGP.

Mata dunia mulai tertuju. Septi mengharapkan, seluruh potensi dan ruang sangat terbuka. Manfaatkan, agar tidak sepenuhnya orang lain yang justru start dan ambil peluang. Untuk produk-produk makanan dan minuman, tanggalkan mindset tentang repotnya mengurus PIRT, BPOM dan label halal. Karena itulah jaminan yang dibuat oleh pemerintah bagi orang lain tertarik dengan produk lokal. Apalagi tidak sedikit yang akan berdatangan ke Lombok, sebelum dan pascapenyelenggaraan MotoGP nanti. (bul)