Sepi Kunjungan, Harga Kerajinan Sukarara Diturunkan

Pengunjung memilih kain songket di sentra kerajinan Sukarara.(Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Aktivitas para perajin di Sukara, Kabupaten Lombok Tengah terhenti sementara. Ditengah pandemi corona, usaha yang dilakukan sementara ini menggarap kembali lahan-lahan yang dimiliki. Bagi yang tidak memiliki lahan, kerjanya serabutan.

Pusat penjualan hasil kerajinan, Dharma Setya di Sukarara juga sejak pandemi corona harus ‘’berpuasa’’. Tidak ada tamu yang datang, apalagi yang berbelanja. Kalaupun ada, hanya sekedarnya. Dharma Setya, Hand Woven and Handicraft adalah pembina seluruh perajin yang ada di Sukarara. Hasil tenunan yang dilakukan oleh para perajin di rumah-rumah mereka, dikumpulkan. Kemudian dijual, dipajang di pusat penjualan hasil kerajinan ini.

Iklan

Ownernya, Hj. Robiah mengatakan, sementara ini tidak membeli hasil – hasil para perajin. Akibat sepinya kunjungan. Otomatis, para perajin juga berhenti berproduksi. “Yang sekarang terjual masih stok lama,” katanya kepada Suara NTB.

Beberapa produk kerajinan yang ada di Dharma Setya ini diantaranya, beragam songket, bed cover, blanket, table cloth dan lainnya. Ada juga wood carving, grass basket, basker bamboo. Batik Sasambo, perak, emas dan lainnya.

Hj. Robiah mengatakan, sejak corona, omzet penjualan menurun drastis. Sampai 90 persen. Tidak banyak yang bisa dilakukan. Karena penjualannya murni mengandalkan kunjungan. Dharma Setya juga bekerjasama dengan biro-biro perjalanan wisata. Namun pandemi corona ini berdampak pada seluruh jenis usaha.

Dalam keadaan normal, setiap hari kunjungan ke Dharma Setya bisa mencapai ratusan orang. Terutama saat akhir pekan. Saat ini sangat sepi. Harga produk, dari yang terkecil Rp50.000 sampai Rp5 juta untuk kain songket kain sutera. Karena sepinya kunjungan, harga produk yang dijajakan turun.  Saat ini penurunan harga sekitar 10 persen. Kain songket Sukarara sudah terkenal.

Harganya yang terbilang mahal karena proses pembuatannya yang lama. Dan bahan bakunya menggunakan pewarnaan alam. Meski demikian, karena kekhasannya inilah, harga tak menjadi persoalan. Selama ini, kunjungan domestik sangat membantu penjualan. Biasanya untuk kegiatan pemeritahan yng menjadikan oleh – oleh saat berkunjung ke NTB, atau dikirimkan kepada rekan di luar sebagai oleh-oleh.

“Saat ini benar-benar terasa dampaknya. Tidak kita saja, perajin yang menjadi pemasok produk juga merasakan langsung dampak sepinya kunjungan berbelanja wisawatan,” ujarnya. Karena itu, diharapkan situasi ini secepatnya berakhir. Keadaan kembali normal agar aktivitas ekonomi bisa bergerak kembali. (bul)