Seorang Remaja Nyaris Jadi Korban Perdagangan Orang

Tekong calon PMI ilegal dengan korban di bawah umur NS (tengah), Senin, 17 Februari 2020 dalam pengawalan penyidik Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda NTB.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Pengiriman calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Arab Saudi kembali terungkap. Modusnya sama. Tersangka tekong mengimingi korban dengan uang. Plus janji manis gaji tinggi dan ibadah haji. Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto menjelaskan, korban calon PMI yang berusia 17 tahun memang belum diberangkatkan.

Namun, korban berinisial SR ini sudah ditampung di Jakarta hampir sebulan sejak Januari lalu. “Korban diimingi gaji Rp7 juta. Dapat ibadah haji, umrah. Korban diimingi juga uang pesangon atau uang fit Rp3 juta,” ucapnya, Senin, 17 Februari 2020 didampingi Dirreskrimum Polda NTB AKBP Hari Brata dan Kasubdit IV Remaja Anak Wanita AKBP Ni Made Pujewati.

Iklan

Tersangka NS alias AS (35) lebih dulu menginapkan korban di rumahnya di Desa Lajut, Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah selama empat hari, mulai Minggu, 13 Januari 2020.

Korban SR tidak sendiri, ada juga lima calon PMI ilegal lain. Mereka lalu diterbangkan ke Jakarta. “Para korban diserahkan ke salah satu PJTKI yang menjadi agen kerjasama dengan tersangka,” beber Artanto.

Selama di penampungan, korban mendapat cacian dari sesama calon PMI. Terutama soal dia yang masih di bawah umur dan mau berangkat bekerja ke luar negeri. Perundungan itu membuat korban tidak betah.

Di kampung halamannya, ibu SR sampai pulang dari bekerja di Malaysia karena mengetahui anaknya dijemput tekong. Polisi dapat laporan. SR akhirnya bisa pulang.

Sementara tersangka NS ditangkap akhir pekan lalu di rumahnya. Hari Brata menambahkan, pihaknya mendalami lagi mengenai adanya dua korban anak yang diduga akan diperlakukan sama halnya dengan SR. hal itu terungkap saat menjemput NS di rumahnya.

“Masih akan kita tindaklanjuti, kita kembangkan apakah masih ada korban lain. Untuk agennya kita masih dalami,” tegasnya.

Hari mengatakan, tersangka NS mendapat upah sebesar Rp3-4 juta dari agen setiap sukses merekrut satu calon PMI. PJTKI yang menampung calon PMI juga masih didalami. Tersangka NS juga akan dikenai pidana karena sudah menampung dua korban anak calon PMI ilegal lainnya.

“Walaupun masih perencanaan. Sanksi pidananya sama,” tutup Pujewati.

Tersangka NS dijerat dengan pasal 6 dan atau pasal 10 UU RI No21/2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dan pasal 81 juncto pasal 53 UU RI No18/2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Ancaman pidananya, paling lama 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp600 juta. (why)