Seorang Pegiat Seni KLU Diundang ke Polandia

Mataram (suarantb.com) – Salah seorang pegiat seni yang tergabung dalam kelompok Pasirputih Kabupaten Lombok Utara (KLU), Muhammad Sibawaihi diundang ke Polandia. Ia mengikuti residensi kesenian ke Polandia atas undangan dari The Centre For Contemporary Art yang berlokasi di Uajzdowski, Warsawa, Polandia.

Pria yang akrab dipanggil Siba ini, mengikuti residensi kurator di salah satu pusat kesenian kontemporer penting di Eropa Timur tersebut selama dua setengah bulan. Dengan berbagai agenda kegiatan bersama beberapa seniman ternama di kawasan Eropa Timur.

Iklan

Kepada suarantb.com, Direktur Pasirputih KLU, Muhammad Ghazali menerangkan, rekannya di Pasirputih tersebut akan berada di Polandia selama dua setengah bulan untuk melakukan residensi kesenian sebagai kurator bersama beberapa seniman kenamaan di kawasan Eropa Timur khususnya yang bermukim di Polandia.

“Kali ini, ia diundang oleh The Centre For Contemporary Art di Uajzdowski, Wrazsawa, Polandia. Dalam kesempatan ini, dia akan melaksanakan berbagai riset, merancang dan membuat peristiwa kesenian termasuk bertemu dan berdialog bersama beberapa seniman besar di Eropa Timur, khususnya di Polandia,” kata Ghazali, Minggu, 2 Oktober 2016.

Hal tersebut, menurut Ghazali, menjadi langkah penting bagi perkembangan seni di Indonesia khususnya di NTB. Hal itu sekaligus menjadi bahan pembanding bagaimana proses kesenian di Indonesia dengan pola proses para seniman Eropa Timur khususnya Polandia.

Ghazali menerangkan undangan yang diterima rekannya itu dimulai dari kerja sama yang dilakukan Pasirputih dengan beberapa seniman Polandia. Saat itu, beberapa seniman Polandia diundang Pasirputih melakukan proses kesenian di Pemenang KLU. Hal itu, menurutnya menjadi salah satu pintu masuk bagi koleganya di Pasirputih tersebut mengikuti residensi di Polandia.

“Sebelumnya, memang beberapa kurator dari Polandia sempat datang ke Pasirputih dan membuat beberapa kegiatan bersama warga Pemenang. Tentu ini menjadi alasan mengapa kemudian mereka meminta Pasirputih datang ke Polandia,” terangnya.

Pola yang diusung dalam residensi tersebut, ujar Ghazali, didasarkan pada semangat dari program The Centre For Contemporary Art, yang dalam proses keseniannya menyerap permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Kemudian menginisiasi masyarakat untuk bersama-sama menemukan solusi dari permasalahan sosial yang dihadapi tersebut. Sedangkan dalam praktiknya selalu mengutamakan kerjasama dengan komunitas dari berbagai belahan dunia.

“Kerangka yang diusung dalam residensi kali ini adalah berdasarkan program The Centre For Contemporary Art tentang wacana Social Design, yang berlandaskan kerjasama antar komunitas di berbagai belahan dunia. Social Design For Social Living, memiliki karakter-karakter atas komunitas atau pegiat budaya yang akan diajak untuk berkolaborasi. Ciri-ciri yang khas yang disampaikan oleh salah seorang kurator mereka adalah, bahwa seniman, aktivis, desainer sosial, mendengar suara masyarakat, menyutradarai atau menjadi inisiator dalam berbagai peristiwa massa,” terangnya.

“Dan menemukan berbagai solusi atas berbagai permasalahan sosial setelah mendiskusikan permasalahan tersebut bersama masyarakat itu sendiri,” tambahnya.

Ghazali juga menerangkan, undangan yang diterima oleh rekannya itu berdasarkan penilaian bahwa Pasirputih memenuhi kriteria sebagai komunitas yang pola keseniannya selalu melibatkan warga masyarakat untuk berpartisipasi menjadi bagian dari perubahan yang diinginkan.

“Mereka melihat apa yang dilakukan oleh Pasirputih selama ini bersama warga di Pemenang. Bagaimana sebuah komunitas bergerak bersama warga, memperkuat diri mereka untuk melakukan perubahan-perubahan,” katanya.
Ia juga menyatakan, kesempatan yang didapatkan oleh Pasirputih, melalui Sibawaihi tersebut tidak akan disia-siakan. Sekaligus menjadi titik awal bagaimana kerja kesenian berdasarkan pola jejaring harus terus dikembangkan.

“Kegiatan atau proses seperti ini, selain menjadi cara untuk mengasah kemampuan, juga untuk menambah khazanah dan pengalaman kesenian masing-masing komunitas. Selain itu, kita berharap kegiatan semacam ini juga bisa diikuti oleh pegiat dunia kreatif di Lombok. Sebab memang Lombok sedang membutuhkan banyak hal terkait beragam problematika keseniannya,” tandasnya. (ast)