Sempat Tiga Kali Gagal, Warga Gomong Raih Nilai Tertinggi Seleksi CPNS

Irma Ista Athiya (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Tak kenal menyerah. Itulah yang patut disematkan kepada Irma Ista Athiya. Pernah tiga kali gagal seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil membuatnya terus mengejar mimpinya. Tahun ini, perempuan kelahiran 1988 itu, meraih nilai seleksi kompetensi dasar tertinggi di Kota Mataram.

Penampilannya sederhana saat Suara NTB menemuinya di kediamaannya di Jalan Sakura V gang IV Nomor 6 Gomong, Kelurahan Gomong, Kecamatan Selaparang. Anak pertama pasangan Drs. Muhammad Tauhid dan Siti Aisyah merasa gugup saat menceritakan perjuangannya sehingga mendapatkan nilai tertinggi pada tes SKD, Senin, 3 Februari 2020.

Iklan

Irma selama dua tahun (2014-2017) bekerja sebagai bidan desa di Puskesmas Santong, Kabupaten Lombok Utara. Jauh dari keluarga membuatnya berpikir untuk mengakhiri pengabdiannya. Ia memilih berhenti dan fokus merawat anaknya yang baru lahir.

“Setelah melahirkan saya berhenti kerja,” jawabnya ditemui, Jumat, 7 Februari 2020.

Tinggal di lingkungan keluarga sebagai pegawai negeri. Ibu satu anak ini mencari keberuntungan mengikuti jejak kedua orangtuanya. Usai mengakhiri studi di salah satu fakultas kesehatan di Mataram, ia mendaftar sebagai calon pegawai negeri sipil di Kabupaten Lombok Timur. Irma hanya berhasil di peringkat keenam dari lima formasi yang dibutuhkan.

Tekadnya untuk membanggakan orangtuanya terus dikejar. Dia kembali ikut tes di Kabupaten Lombok Utara. Tes seleksi kompetensi dasar dilalui dengan lulus passing grade. Namun mimpinya untuk mengabdi ke negara terhenti. Di seleksi kompetensi bidang, ia kalah dengan pesaing lainnya. “Di SKB saya gagal,” tuturnya.

Terhitung tiga kali gagal. Irma terus belajar dengan mencari referensi lewat buku, google dan youtube. Tahun ini, niatnya membahagiakan orangtua, suami serta anaknya ingin dia wujudkan.

Pengalaman berhadapan soal tes CPNS membuatnya terbiasa. Irma meraih nilai tertinggi dengan skor 420 pada seleksi kompetensi dasar. Dirincikan, tes intelegensi umum (TIU) 160, tes wawasan kebangsaan 115 dan tes kepribadian 145.

“Soalnya sama saja dari dulu,” ucapnya.

Mendapatkan nilai tinggi bukanlah sesuatu yang gampang. Irma harus mengatur waktu saat mengerjakan soal. Di 30 menit pertama, soal TKP dikerjakan lebih awal. Belum tuntas menjawab seluruh soal, ia beralih menjawab soal TWK. Dan, 30 menit fokus mengerjakan TIU. Sisa waktu 5 menit digunakan untuk mengoreksi kembali semua jawaban.

“Kuncinya di manajemen waktu saja sih,” jawabnya.

Dia menyadari soal TWK sangat panjang. Pelamar banyak terjebak dan kehabisan waktu membaca soal. Apalagi jawaban dalam pilihan ganda hampir mirip. Dibutuhkan kejelian serta kecermatan agar tidak mudah terkecoh.

Cita – citanya sebagai pegawai negeri sipil tinggal satu langkah lagi. Mendapatkan nilai tertinggi hingga hari kelima tes SKD tak membuatnya besar kepala. Irma harus menghadapi ujian SKB. Ia tak ingin terjebak dan gagal keempat kalinya.

Dia  kembali akan mempersiapkan diri menghadapi ujian berikutnya. Materi disiapkan berkaitan tentang pengalaman di bidang kesehatan, kebijakan – kebijakan dalam Peraturan Kementerian Kesehatan dan lain sebagainya. “Tetap berjuang dan optimis aja,” demikian kata dia. (cem)