Sempat Libur Tiga Bulan, Penjual Peci di Pasar Cakra Sepi Pembeli

Fahruddin, penjual peci di pasar Cakranegara sedang menunggu pembeli, Sabtu, 18 Januari 2020. Sempat libur berjualan selama tiga bulan saat renovasi pasar, dia merasa kehilangan pembeli saat kini dia kembali berjualan. (Suara NTB/viq)

Mataram (Suara NTB) – Fahruddin (50), penjual aneka peci di pasar tradisional Cakranegara terpaksa tidak berjualan selama tiga bulan karena pemkot Mataram merenovasi pasar. Penjual peci asal Desa Mamben, Kabupaten Lombok Timur yang kini menetap di lingkungan Mayura ini mengatakan, sudah hampir 10 tahun ia mengantungkan hidupnya di Pasar Cakranegara sebagai penjual peci.

“Selama renovasi pasar ini, saya tidak berjualan di sini,’’ tuturnya. Sebelum renovasi, pelanggannya ramai. Kini pelanggannya sepi karena baru beberapa hari ini diperbolehkan buka. ‘’Karena mungkin baru buka, makanya sepi,” tambah penjual peci yang memiliki empat orang anak ini kepada Suara NTB, Sabtu, 18 Januari 2020.

Iklan

Fahruddin menuturkan, selama menjual peci, dalam sehari biasanya ia dapat menjual 50-70 buah peci. Peci yang dijualnya pun beragam. Dari peci haji berwarna putih, dan peci jenis hitam pada umumnya.  Harga satu buah peci yang dijualnya pun beragam. Dari peci warna hitam dibanderol dengan harga Rp20.000, bahkan sampai harga Rp40.000.

Peci-peci yang dijual Fahruddin diorder dari luar pulau Lombok. Seperti dari pulau Jawa. Ada pun untuk peci jenis Bone kata Fahruddin, diorder dari Provinsi Aceh. “Biasanya sekali order modalnya beragam, kalau ada rizki lebih saya order sampai Rp2 juta dan paling banyak itu sampai Rp10 juta,” tuturnya pelan.

Untuk harga peci jenis Bone kata Fahruddin, biasanya ia jual dengan harga Rp200.000. Dari semua jenis peci yang dijualnya, jenis peci Bone asal daerah Provinsi Aceh inilah yang paling mahal. Untuk ukurannya, peci-peci yang dijual Fahruddin sangat beragam. Dari ukuran anak-anak dan dewasa.

“Alhamdulillah kalau lagi rame iya bisa dapat Rp500.000 sampai Rp1 juta per harinya. Tapi setelah libur berjualan tiga bulan, kondisi pasar kan masih sepi pengunjung. Jadi hari ini baru laku tiga peci saja. Biasanya memang awal tahun agak sepi, ramainya nanti pas bulan Ramadhan,” katanya.

Sejak tahun 2006 lalu, Fahruddin sudah datang ke Kota Mataram untuk menjual peci. Hasil dari menjual peci ini bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan keempat anaknya. Anak sulungnya sudah lulus sarjana di salah satu Sekolah Tinggi Pariwisata di Mataram. “Itu semua hasil jerih payah dari berjualan peci selama puluhan tahun. Makanya kalau sampai tidak berjualan, iya saya tidak tahu harus cari nafkah di mana selain jual peci ini. Makanya selama tiga bulan libur, iya cuma bisa diam di rumah,” tambahnya.

Selama berjualan peci di depan Pasar Cakranegara, ia tak pernah dimintai biaya apapun dari pengelola pasar. Menanggapi hal demikian, Camat Cakranegara, Muhammad Erwan menjelaskan, ada 50 pedangan kaki lima yang tersebar di sepanjang pasar Cakranegara.

Menurut Erwan, pihak kecamatan hanya bisa mengawasi para pedagang yang menggantungkan hidupnya di kawasan pasar Cakranegara. Untuk masalah retribusi pasar dan penataan pasar sendiri, pihaknya sudah menyerahkan sepenuhnya ke Dinas Perdagangan kota Mataram. “Kita di kecamatan hanya berharap bagaimana kondisi pasar bisa tetap bersih serta bila perlu semua pedagang menjaga kerapian juga. Untuk semua pedagang juga diperhatikan nasibnya oleh Pemkot Mataram. Di sampaing kita imbau agar tidak berjualan di pinggir jalan demi kenyaman bersama,” tutup Erwan.

Akan Dilanjutkan

Sementara itu, pengerjaan fisik renovasi Pasar Cakranegara yang diputus kontrak itu, akan kembali dilanjutkan tahun 2020 ini. Rekanan selanjutnya akan mengerjakan sisa pekerjaan 10 persen.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, H. Amran M. Amin mengatakan, berdasarkan mekanisme pengadaan barang dan jasa, tim menilai rekanan tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan meskipun diberikan waktu tambahan 50 hari. “Putus kontrak memiliki mekanisme. Beda dengan lepas tangan,” kata Amran.

Kontrak rekanan Pasar Cakranegara berakhir 16 Desember. Deviasi pekerjaan saat itu mencapai 40 persen lebih. Pertimbangan tidak diputus kontrak kala itu, Dinas Perdagangan memiliki keyakinan hingga 31 Desember bagian atap bisa selesai dikerjakan.

Iktikad kontraktor cukup baik dan selama dua pekan bagian atap selesai dikerjakan. Kendala dihadapi adalah sumber anggaran berasal dari APBN, sehingga sisa anggaran sekitar Rp200 juta dikembalikan ke kas negara.

Amran menambahkan, sisa pekerjaan 10 persen telah dikonsultasikan ke Badan Keuangan Daerah, agar bisa dikerjakan di awal triwulan pertama tahun ini. “Sudah ada lampu hijau, mana anggaran tidak urgen kita alihkan dulu untuk membiayai penyelesaiannya,” tambahnya.

Meskipun belum rampung 100 persen sambungnya, kondisi pasar telah disampaikan ke pedagang. Pedagang rata – rata memahami dan mau menempati kembali toko tersebut.(viq/cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional