Seminar Adat Budaya, Desa Sesait Berdiri Sejak 1895 di Bawah Hindia Belanda

0
Prosesi Ziarah Makam Leluhur Kubur Beleq Sesait, serangkaian dengan ritual adat budaya memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-76. (Suara NTB/ist)

Seiring Hari Kemerdekaan RI ke-76, 17 Agustus lalu, Pemerintah Desa Sesait menggelar Seminar Adat Budaya berwawasan kebangsaan. Seminar ini selain untuk meningkatkan pemahaman tentang adat dan budaya wet Sesait, juga dihajatkan untuk meningkatkan semangat nasionalisme untuk terus membangun bangsa melalui desa.

Serangkaian acara seminar, masyarakat adat Wet Sesait, lebih dulu menggelar acara adat. Yakni Aji Lawat atau pembacaan Shalawat Nabi. Acara ini menjadi pembuka menjelang ziarah ke makam leluhur penyebar Islam di Kubur Beleq (Tempat Pemakaman Umum-TPU).

IKLAN

Narasumber seminar, H. Djekat Demung – mantan Pemusungan (Kades) Sesait dan mantan anggota DPRD KLU, berpesan kepada seluruh masyarakat khususnya generasi muda, agar tidak lupa akan sejarah. Bahwa, kemerdekaan yang diraih saat ini tidak didapat dengan mudah. Bahkan Desa (Pemusungan) Sesait, menjadi bagian dari sejarah pemerintahan sebelum Indonesia merdeka.

“Harapan kita, melalui seminar tentang sejarah desa Sesait yang sudah ada sejak 1895 dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap bangsa, negara, dan Desa Sesait itu sendiri,” ujarnya.

Menurut Djekat, minimnya informasi sejarah secara turun temurun berperan dalam menurunkan nilai dan kualitas kecintaan kepada sebuah pemerintahan. Oleh karenanya, ia menyambut baik Pemdes Sesait menginisiasi seminar berwawasan kebangsaan, adat dan budaya ini.

“Informasi tentang sejarah awal berdirinya Desa Sesait dan Pemusungan Sesait dari masa ke masa, akan membuka cakrawala berpikir generasi muda kita. Merekalah yang menjadi motor pembangunan di masa depan,” sambungnya.

Dalam ulasan sejarah singkat Desa Sesait dari cerita sesepuh dan catatan Pemerintah Hindia Belanda, terang Djekat, bahwa Desa Sesait sudah  terbentuk dan berdiri sebelum masa kemerdekaan NKRI. Ketika itu, di masa awal pendudukan Pemerintahan Hindia-Belanda usai mengalahkan Kerajaan Bali di Lombok tahun 1894, satu tahun setelahnya (1895), Pemerintah Hindia Belanda membentuk wilayah-wilayah kecil yaitu desa di bawah naungan distrik.

“Salah satu dari desa yang dibentuk dan dirikan oleh Pemerintahan Hindia-Belanda pada tahun 1895 adalah Pemusungan Sesait dengan pusat pemerintahan pertama berada di Tampes yang masuk ke Distrik Bayan,” ujar Djekat.

Awal berdiri, Desa Sesait dipimpin oleh Pemusungan (sebutan lain Kepala Desa). Pemusungan dibantu penjabat tingkat dusun yang disebut Keliang.

Pemusungan Sesait yang menjabat pertama tahun 1895 dan pemusungan setelahnya, setelahnya tidak tercatat dalam sejarah. Meski demikian, keberadaan Desa Sesait secara faktual memang sudah berdiri sejak tahun 1895.

Desa Sesait merupakan desa induk di masa itu. Pemekaran pertama adalah Desa Selengen pada tahun 1929. Sejak itu, pusat pemerintahan yang tadinya di Tampes, dipindahkan ke Amor-Amor. Sedangkan Tampes, ditempati oleh Pemerintah Desa Selengen.

“Jadi berdasarkan asal usul tersebut, Sesait masih bisa menggunakan istilah pemusungan. Begitu juga dengan istilah Majelis Krama Desa, itu adalah nama lain dari BPD, sehingga, tidak bisa MKD dilantik oleh Kepala Desa,” tegasnya. (ari)