Semakin Menjamur, Lobar Belum Mampu Tertibkan PKL di Jalur “Bypass” BIL 2

Para PKL kian menjamur di jalur baypas BIL 2 Lobar. Mereka pindah jualan ke Lobar setelah ditertibkan Pemkot Mataram.(Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) –Pedangan kaki lima (PKL) yang ditertibkan oleh Pemkot Mataram pindah berjualan di sepanjang jalur lambat bypass BIL 2 Lombok Barat. Keberadaan PKL yang kian menjamur ini dinilai cukup mengganggu lalu lintas menuju perbatasan monumen Tembolak Kota Mataram. Hingga kini, Dinas Perindustrian dan Perdangangan (Disperindag) Lobar belum menemukan lokasi yang tepat untuk merelokasi para pedangang itu.

Kepala Disperindag Lobar, H. Sabidim mengatakan pihaknya masih mencarikan lokasi untuk merelokasi para pedangan tersebut agar tidak lagi menangganggu lalu lintas di jalur tersebut.“Masih dicarikan lokasi yang pas,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin, 21 Juni 2021. Para pedagang tetap dibiarkan berjualan di pinggir jalan bypass BIL 2. Mulai dari jalur lambat sebelah gerbang Tembolak masuk wilayah Lobar hingga terowongan pertama Desa Bajur Kecamatan Labuapi.

Iklan

Disinggung mengenai kemungkinan lokasi dipindahkannya pedagang tersebut, Sabidin mengaku belum memiliki bayangan lokasinya di mana. Justru ia mengklaim pada lokasi yang sekarang tetap aman.“Aman kok di sana (lokasi saat ini), sementara sambil menunggu lokasi baru,” klaimnya. Sebelumnya, Satpol PP Lobar sudah menertibkan para PKL tersebut, bahkan mengaku sudah menyiapkan strategi untuk menertibkan para PKL. Terlebih, kata dia, sebagian besar pedagang berasal dari Lobar.

Sementara untuk para PKL yang berasal dari Mataram, mereka kini telah disiapkan lahan oleh Pemkot. Yakni di lahan kosong bekas lesehan yang tepat berada di pinggir jalan bypass. “Saat ini sedang kami carikan lokasi yang tepat untuk mereka (para PKL) bisa berjualan tanpa mengganggu Ruang Terbuka Hijau (RTH)” tegas Kasat Polpp Lobar, Bq. Yeni S Ekawati belum lama ini. Untuk bisa berjualan di lahan yang tengah disiapkan, Pol PP sudah menyiapkan syarat untuk menata mereka ketika berjualan di sana nantinya.

Pertama, para PKL boleh berjualan mulai pukul 16.00 Wita hingga pukul 22.00 Wita. Kemudian, mereka tidak diperbolehkan meninggalkan gerobak dagangannya di lokasi setelah selesai berjualan. Mereka juga tidak diizinkan berjualan pada malam Jumat. Selain itu, mereka juga diwajibkan untuk tetap menjaga kebersihan lokasi berjualan. Serta, para pedagang yang menggunakan kendaraan (baik roda tiga atau pun empat) tidak boleh parkir sembarangan. “Nanti para pedagang itu akan dikoordinasikan oleh APLKI yang ada di kecamatan Labuapi” ujarnya. Selain itu para pedagang itu juga harus tetap menjaga kebersihan, kalau sampai meninggalkan sampah, akan langsung di beri tindakan. (her)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional