Seluruh Puskesmas di KLU Tak Punya Apoteker

Tanjung (Suara NTB) – Idealnya, optimalisasi pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat fasilitas kesehatan didukung sumber daya memadai. Hanya saja, tidak semua puskesmas memiliki sumber daya yang dibutuhkan, termasuk apoteker. Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Utara (KLU) mengakui, di seluruh puskesmas yang ada tak satu pun memiliki sumber daya apoteker.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) pada Dikes KLU, H. Samsul Bahri, Jumat, 28 Oktober 2016 mengakui seluruh Puskesmas di KLU tak didukung tenaga apoteker. Padahal dalam Permenkes No. 75 tahun 2015 tentang Puskesmas telah dijelaskan tentang perangkat SDM. Dalam rangka memberikan pelayanan  maksimal kepada masyarakat, tenaga ini harusnya tersedia.

Iklan

“Di semua puskesmas yang kita miliki memang belum ada tenaga apotekernya. Yang ada hanya asisten apoteker. Harusnya itu ada di setiap puskesmas,” ungkapnya.

Mengacu pada keterbatasan tersebut, Samsul Bahri mengatakan jajaran Dikes KLU harus bekerja ekstra untuk turun lapangan memberikan monitoring dan evaluasi kepada Puskesmas. Tenaga apoteker yang tersedia di Dikes KLU difungsikan untuk membantu pengelolaan penatalaksanaan obat di setiap puskesmas.

Ke depan, kata dia, tenaga apoteker diadakan oleh Pemda KLU, mengingat tenaga dimaksud diharuskan tersedia, sehingga tata kelola obat tidak dikendalikan oleh Asisten Apoteker. Sebaliknya mengandalkan tenaga apoteker dari dinas untuk mem-backup Puskesmas dirasa mustahil, karena  dinas pun hanya memiliki 2 apoteker.

“Tenaga apoteker yang dimiliki Dinas Kesehatan baru  2 orang, tidak akan mampu mengcover 8 puskesmas,” sebutnya.

Menurut Samsul, keberadaan tenaga apoteker ini sedikit lambat terpikirkan oleh Dikes KLU dibandingkan kabupaten/kota lain di NTB, sebagian besar sudah memiliki tenaga apoteker di setiap puskesmas, sedangkan KLU masih ditangani oleh asisten.

Menyikapi persoalan ini pula, ia mengakui pihaknya telah mengusulkan rekrutmen tenaga apoteker. Usulan ini telah disampaikan ke Bagian Kepegawaian Setda KLU. Harapannya, rekrutmen tenaga ASN kedepan, Setda KLU dapat memasukkan tenaga apoteker dimaksud. Apabila rekrutmen apoteker melalui rekrutmen ASN sulit dipenuhi pusat, setidaknya kepala daerah dapat mengalokasikan tenaga honor apoteker, sehingga tata kelola obat di puskesmas lebih terarah, serta mendukung optimalisasi pelayanan kepada masyarakat.

“Harapan kita tenaga apoteker dapat disiapkan, walaupun sampai sekarang ini belum ada regulasi yang mengatur rekrutmen tenaga ini,” demikian Samsul Bahri. (ari)